Jejak Sang Putri di Pulau Moyo: Ketika Lady Diana Memilih Menyepi
Terletak di utara Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Pulau Moyo menyimpan keindahan yang tak hanya memukau mata, tetapi juga pernah menjadi tempat pelarian batin bagi sosok ikonik dunia, Lady Diana. Pada tahun 1993, di tengah gejolak kehidupan pribadinya, Putri Diana memilih Pulau Moyo sebagai tempat menyendiri dan menenangkan diri dari sorotan publik. Keputusan ini bukan tanpa alasan. Saat itu, Pulau Moyo masih menjadi destinasi tersembunyi yang sepi dari keramaian wisatawan, menyuguhkan ketenangan dan kedamaian yang sulit ditemukan di tempat lain.
Putri Diana datang tanpa ditemani Pangeran Charles. Ia hanya didampingi oleh seorang pengawal dan tiga sahabat perempuan. Mereka menempuh perjalanan dengan kapal pesiar Aman XI dan menginap selama tiga hari dua malam di Amanwana Resort, satu-satunya akomodasi mewah yang berada langsung di kawasan alam Pulau Moyo. Resort ini masih berdiri hingga kini dan telah menjadi langganan berbagai tokoh dunia, dari musisi legendaris Mick Jagger hingga pasangan selebriti Korea Selatan Kim Tae Hee dan Rain yang memilihnya sebagai lokasi bulan madu.
Salah satu tempat yang paling membekas dari kunjungan Lady Diana ke Pulau Moyo adalah Air Terjun Mata Jitu. Air terjun ini, yang kini juga dikenal sebagai “Queen Waterfall”, menawarkan lanskap yang memikat. Air jernih mengalir membentuk empat tingkatan dan tujuh kolam alami yang diselimuti rimbunnya hutan tropis. Warna hijau kebiruan air berpadu dengan formasi bebatuan purba serta stalaktit dan stalagmit yang terbentuk selama ribuan tahun, menjadikan tempat ini terasa seperti lukisan alam yang hidup. Masyarakat setempat menyebut nama “Mata Jitu” berasal dari mata air yang jatuh tepat sasaran ke kolam di bawahnya, menciptakan keindahan yang presisi secara alami.
Perjalanan menuju Air Terjun Mata Jitu pun bukan tanpa petualangan. Wisatawan harus menyewa perahu dari Desa Ai Bari di Pulau Sumbawa untuk menyeberang ke Pulau Moyo, sebuah perjalanan laut selama sekitar dua jam. Setibanya di dermaga, perjalanan dilanjutkan dengan ojek motor selama 20 menit atau berjalan kaki sekitar 1,5 jam melalui savana dan perbukitan. Meskipun menantang, pengalaman ini justru memperkuat nuansa eksklusif dan alami yang ditawarkan Pulau Moyo.
Kini, Pulau Moyo dan Pulau Satonda telah resmi ditetapkan sebagai Taman Nasional Moyo Satonda sejak tahun 2022, dengan luas sekitar 31.200 hektare. Kawasan ini menjadi bagian dari Cagar Biosfer Saleh-Moyo-Tambora (Samota), menegaskan pentingnya pelestarian alam dan ekowisata berkelanjutan. Dengan jejak sejarah yang kuat, keindahan alam yang autentik, serta kekayaan hayati yang dilindungi, Pulau Moyo tidak hanya menjadi tempat untuk berlibur, tetapi juga ruang untuk merenung, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Putri Diana.