Intertaiment

Budaya FOMO di Media Sosial: Mengapa Kita Takut Ketinggalan Tren?

R Rizka Aurellia Ramadhani Terverifikasi Penulis
3 Mei 2026, 20:15 3 menit baca 606x dilihat
Budaya FOMO di Media Sosial: Mengapa Kita Takut Ketinggalan Tren?
Winnicode Officials

Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, muncul satu fenomena yang semakin sering dirasakan banyak orang, yaitu FOMO atau fear of missing out. Istilah ini menggambarkan perasaan cemas atau takut tertinggal dari pengalaman, tren, atau informasi yang sedang ramai dibicarakan. Mulai dari tren fashion, tempat nongkrong viral, hingga isu terbaru di internet, semuanya seakan menuntut kita untuk selalu update. Tanpa disadari, media sosial telah membentuk pola pikir bahwa “tidak ikut tren” berarti tertinggal.

FOMO sebenarnya bukan hal baru, tetapi intensitasnya meningkat drastis sejak kehadiran media sosial. Platform seperti Instagram, TikTok, dan Twitter dirancang untuk menampilkan highlight kehidupan orang lain, yang sering kali terlihat lebih menarik, produktif, dan menyenangkan. Menurut Andrew K. Przybylski, FOMO berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia untuk merasa terhubung dan diakui dalam lingkungan sosialnya. Ketika seseorang melihat orang lain menikmati pengalaman tertentu, muncul dorongan untuk ikut serta agar tidak merasa tertinggal secara sosial.

Salah satu alasan mengapa FOMO begitu kuat adalah karena sifat media sosial yang real time. Informasi bergerak sangat cepat, dan tren bisa muncul serta hilang dalam hitungan hari, bahkan jam. Hal ini menciptakan tekanan tersendiri bagi pengguna untuk terus memantau apa yang sedang terjadi. Sherry Turkle menjelaskan bahwa teknologi membuat kita selalu “terhubung”, tetapi di saat yang sama juga membuat kita sulit untuk benar benar merasa cukup. Selalu ada sesuatu yang terasa kurang jika kita tidak mengikuti apa yang dilakukan orang lain.Selain itu, algoritma media sosial juga berperan besar dalam memperkuat FOMO. Konten yang viral akan terus didorong ke lebih banyak pengguna, sehingga menciptakan ilusi bahwa semua orang sedang melakukan hal yang sama. Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian. Tristan Harris menyebut bahwa platform digital dirancang untuk menarik perhatian pengguna selama mungkin, salah satunya dengan menampilkan konten yang memicu emosi, termasuk rasa cemas dan keinginan untuk ikut serta.

Dampak dari budaya FOMO tidak hanya sebatas kebiasaan mengikuti tren, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan mental. Perasaan tidak cukup, cemas, hingga rendah diri bisa muncul ketika seseorang terus membandingkan dirinya dengan orang lain. Terlebih lagi, apa yang ditampilkan di media sosial sering kali merupakan versi terbaik dari kehidupan seseorang, bukan realitas sepenuhnya. Hal ini menciptakan standar yang tidak realistis dan sulit dicapai.

Namun, bukan berarti FOMO selalu berdampak negatif. Dalam beberapa kasus, FOMO justru bisa menjadi motivasi untuk mencoba hal baru, memperluas pengalaman, dan tetap terhubung dengan lingkungan sosial. Kuncinya terletak pada bagaimana kita mengelola perasaan tersebut. Menyadari bahwa tidak semua tren harus diikuti adalah langkah awal untuk mengurangi tekanan yang muncul dari media sosial.Pada akhirnya, budaya FOMO mencerminkan bagaimana media sosial tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga membentuk cara kita melihat diri sendiri dan orang lain. Dengan memahami mekanisme di baliknya, kita bisa lebih bijak dalam menggunakan media sosial tanpa harus merasa tertinggal. Tidak semua hal harus diikuti, dan terkadang, memilih untuk tidak ikut tren justru menjadi bentuk kontrol diri yang paling sehat.

Referensi

  • Przybylski, A. K., et al. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior.
  • Turkle, S. (2011). Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other. MIT Press.
  • Harris, T. (2016). How Technology Hijacks People’s Minds. Medium Essay.
  • JWT Intelligence (2012). Fear of Missing Out (FOMO) Trend Report.
  • Beyens, I., et al. (2016). Social media, FOMO, and well-being. Journal of Social and Clinical Psychology.   
Komentar 0

Komentar (0)

Sampaikan pendapat Anda dengan santun.

G
Anda belum masuk, komentar akan tampil sebagai Guest. Masuk
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.