Lingkungan

Revolusi Material Ramah Lingkungan: Bioplastik Jadi Solusi Material Berkelanjutan

N Nandyta Alifia Denila Didha Putri Hartono Terverifikasi Penulis
4 November 2025, 22:03 3 menit baca 643x dilihat
Revolusi Material Ramah Lingkungan: Bioplastik Jadi Solusi Material Berkelanjutan
Winnicode Officials

Plastik menjadi ancaman serius bagi makhluk hidup di Bumi hari ini. Plastik melalui bentuk partikelnya, atau dikenal dengan mikroplastik, telah menyebar mencemari lautan, tanah, udara, hingga tubuh manusia. Mikroplastik merupakan polusi yang berasal dari partikel plastik yang sangat kecil. Ukurannya kurang dari 5 millimeter, bahkan lebih kecil dari itu, lebih kecil beberapa kali  dari diameter rambut manusia. Mikroplastik terbentuk melalui proses penguraian sampah plastik menjadi potongan-potongan kecil yang tidak terurai sempurna di alam.

United Nations Environment Programme (UNEP) menyatakan setiap tahunnya terdapat sekitar 20 ribu ton sampah plastik mencemari ekosistem air. Padahal, air menjadi penunjang hidup paling krusial makhluk hidup termasuk manusia. Ilmuwan terus berupaya menanggulangi masalah ini. Salah satunya melakukan penggalakan penciptaan alternatif lain dari plastik, yakni bioplastik. Lalu apa yang dimaksud dengan bioplastik? Apakah sama dengan plastik konvensional? Lalu bagaimana dampaknya?

Bioplastik Sebagai Pengganti Plastik Konvensional: Keunggulan dan Catatan yang Perlu Diperhatikan

Solusi yang kini paling gencar dilakukan adalah mengganti penggunaan plastik konvensional dengan bioplastik. Bahan ini didefinisikan sebagai bahan plastik yang sebagian atau keseluruhannya terbentuk dari biomassa terbarukan seperti tumbuh-tumbuhan, atau berbahan biodegradable, atau keduanya. Bioplastik menjadi salah satu solusi bahan material berkelanjutan yang lebih ramah lingkungan.

Keunggulan bioplastik adalah memiliki jejak karbon lebih sedikit jika dibandingkan dengan plastik konvensional. Hal ini mengacu pada proses produksi bioplastik menghasilkan lebih sedikit gas rumah kaca bagi lingkungan. Selain itu, penggunaan bioplastik dapat menjadi cara untuk menurunkan ketergantungan pada bahan baku fosil. Bioplastik dalam skenario ideal juga dapat digunakan kembali, dikomposkan, atau diolah kembali menjadi bahan baku alami tanpa mencemari lingkungan.

Meskipun menawarkan banyak dampak positif, revolusi bioplastik masih memiliki sejumlah kekurangan. Produksi bioplastik masih terhitung lebih banyak menelan biaya produksi jika dibandingkan dengan plastik konvensional.Proses produksi bioplastik pun belum bebas dari jejak karbon meskipun jumlahnya lebih kecil dibanding produksi plastik konvensional. Kecepatan dekomposisinya pun masih terbilang masih memerlukan waktu dan cara khusus, meskipun terhitung lebih cepat. Selain itu tidak semua negara memiliki fasilitas pengomposan bioplastik dengan benar. Hal tersebut dapat berisiko produk bioplastik tidak dapat terurai di alam secara sempurna sama seperti plastik konvensional.

Selain itu, dibutuhkan regulasi yang jelas mengenai produk bioplastik oleh pemerintah setempat. Dengan adanya produk baru berlabel bioplastik dapat dimanfaatkan oknum untuk melakukan aksi ‘greenwashing’. Yakni aksi pelabelan produk dengan mengklaim bahwa produk tersebut ramah lingkungan, padahal tidak benar-benar demikian.

Terlepas dari kekurangan yang dimiliki, para ahli percaya bahwa bioplastik masih dapat menjadi solusi jika pengelolaan akhir dan keamanan bahan terjamin. Selain itu, diperlukan adanya proses produksi yang lebih efisien yang minim atau bahkan nihil jejak karbon, serta diiringi regulasi pemerintah dalam pengawasannya. Selain itu, perlu adanya edukasi kepada masyarakat terkait cara penggunaan dan pembuangan bioplastik dengan benar. Selain membuat regulasi, dukungan pemerintah untuk kebutuhan riset, subsidi, dan pembuatan fasilitas pengelolaan limbah organik juga diperlukan.

Komentar 0

Komentar (0)

Sampaikan pendapat Anda dengan santun.

G
Anda belum masuk, komentar akan tampil sebagai Guest. Masuk
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.