Banjir Melanda Jakarta, Ratusan Warga Kebon Pala Mengungsi Akibat Luapan Kali Ciliwung
Hujan deras yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya sejak Minggu malam, 6 Juli 2025, menyebabkan banjir di sejumlah wilayah ibu kota, termasuk Kebon Pala, Jakarta Timur. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat, hingga Senin (7/7/2025) pukul 20.00 WIB, sebanyak 100 RT di Jakarta terendam banjir dengan ketinggian air bervariasi antara 30 cm hingga 2,7 meter.Di Kebon Pala, banjir setinggi 1,8 meter merendam 71 rumah warga akibat luapan Kali Ciliwung yang dipicu curah hujan ekstrem di hulu sungai, khususnya wilayah Bogor. Sebanyak 996 warga dari berbagai wilayah Jakarta, termasuk Kebon Pala, terpaksa mengungsi ke 17 lokasi pengungsian yang disediakan pemerintah daerah. Banjir menyebabkan banyak barang warga rusak karena air masuk ke rumah sejak dini hari.
BPBD DKI Jakarta melaporkan, banjir kali ini merupakan bagian dari bencana hidrometeorologi basah akibat curah hujan tinggi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat curah hujan di Jakarta dan Bogor mencapai lebih dari 100 mm/hari, termasuk kategori hujan lebat. BMKG memperingatkan potensi hujan susulan hingga pertengahan Juli 2025, termasuk risiko banjir rob akibat pasang air laut.
Penanganan darurat terus dilakukan oleh pemerintah. BPBD, bersama TNI, Polri, dan relawan, melakukan evakuasi warga menggunakan perahu karet di wilayah terparah seperti Kebon Pala dan Jati Padang, Pasar Minggu. Kementerian Sosial telah mendistribusikan bantuan logistik berupa makanan, selimut, dan kebutuhan dasar lainnya ke lokasi pengungsian. Fokus utama saat ini adalah evakuasi dan pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengumumkan rencana modifikasi cuaca untuk mengurangi intensitas hujan di Jabodetabek. Operasi ini dilakukan dengan koordinasi bersama BMKG untuk mencegah banjir susulan. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung telah mengunjungi posko pengungsian di Jakarta Timur, memastikan penanganan berjalan optimal dan mengimbau warga tetap waspada.
Pakar lingkungan dari Institut Pertanian Bogor menyebut banjir di Jakarta tidak hanya dipicu curah hujan ekstrem, tetapi juga deforestasi di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung. Kawasan hulu Ciliwung di Bogor telah berubah menjadi perkebunan dan permukiman, mengurangi daya serap air. Penertiban bangunan di bantaran sungai dan reboisasi disarankan sebagai solusi jangka panjang.
Pemerintah DKI Jakarta terus memantau situasi melalui situs pantaubanjir.jakarta.go.id, yang menyediakan informasi real-time tentang titik banjir. Hingga 8 Juli 2025, sebanyak 35 RT masih terendam, dengan fokus evakuasi di Jakarta Timur dan Selatan. BPBD mengimbau warga di bantaran sungai untuk menyiapkan tas siaga bencana dan mengikuti peringatan dini dari BMKG.
Banjir ini menjadi pengingat akan perlunya langkah mitigasi yang lebih komprehensif, seperti normalisasi Kali Ciliwung dan pembangunan tanggul raksasa (Giant Sea Wall), yang masih dalam tahap perencanaan. Masyarakat diharapkan tetap siaga menghadapi potensi bencana susulan sepanjang musim hujan.