Silent Burnout: Sering Disalahpahami Padahal Tanda Tubuh dan Mental Kelelahan
Silent Burnout menjadi fenomena yang semakin sering muncul dewasa ini terutama pada kalangan usia produktif. Gejala silent burnout berbeda dengan burnout biasa, silent burnout cenderung muncul secara perlahan-lahan bahkan jarang disadari. Silent burnout tidak muncul melalui emosi yang meledak-ledak atau dalam penurunan kesehatan ekstrem. Ketika mengalami silent burnout, banyak orang mengira bahwa yang mereka hanya mengalami kelelahan biasa, padahal kelelahan tersebut perlahan-lahan menggerogoti kesehatan mental dan tubuh secara masif.
Kondisi ini perlu mendapat perhatian serius, karena jika terus dibiarkan, silent burnout dapat mempengaruhi kesehatan mental jangka panjang, kesehatan fisik, serta kinerja dan produktivitas seseorang. Berikut penjelasan lebih lanjut berkenaan dengan penyebab, ciri-ciri dan beberapa langkah pencegahan yang perlu diketahui agar terhindar dari silent burnout.
Penyebab Silent Burnout
Tuntutan Produktif yang Tiada Habisnya
Muncul fenomena saat ini orang-orang harus selalu melakukan kegiatan sebanyak-banyaknya untuk memeperoleh label sebagai ‘orang produktif’. Akan tetapi jika dilakukan secara berlebih, perlahan-lahan perilaku ini justru dapat menyebabkan silent burnout. Terlalu sibuk, tanpa memberi jeda pada diri sendiri untuk beristirahat, dapat menyebabkan kelelahan yang menumpuk tanpa teregulasi dengan baik.
Batasan Buram antara Bekerja dan Istirahat
Seringkali kita sering mencampuradukkan waktu istirahat dengan aktivitas kerja. Ketika istirahat, chat pekerjaan masuk, revisi dadakan, atau kebiasaan mengecek email tanpa henti, dapat membuat tubuh dan pikiran tidak benar-benar beristirahat. Hal inilah yang memicu munculnya silent burnout.
Tekanan terhadap diri sendiri dan perfeksionisme
Kita selalu ingin memberikan yang terbaik ketika melakukan segala hal. Tetapi tanpa disadari jika dilakukan secara berlebihan, sikap ini mendorong kita bersikap perfeksionis. Sikap ini dapat membuat pelakunya sulit merasa puas dan terus mengkritisi dirinya sendiri. Bahkan muncul perasaan bersalah ketika berhenti sejenak atau mengalami kelelahan saat melakukan aktivitas produktif. Tanpa sadar, hal ini dapat menyebabkan silent burnout.
Minimnya Kesadaran Mental dan Dukungan Emosional
Kurangnya kesadaran diri terkait kondisi kesehatan mental pribadi dapat membuat seseorang melakukan toxic positivity dan selalu merasa baik-baik saja, padahal pikiran dan tubuh mengalami kelelahan. Dukungan emosional yang minim juga dapat menjadi faktor seseorang dapat mengalami silent burnout. Seorang Individu dengan dukungan emosional yang rendah dapat merasa bahwa dirinya harus selalu kuat. Seseorang tersebut tidak memiliki ruang aman untuk bercerita atau mengungkapkan perasaannya. Kondisi ini jika terus terulang dapat memicu kelelahan mental dan emosional.
Ciri-ciri Silent Burnout
Gejala seseorang yang mengalami silent burnout umumnya samar. Padahal jika tanda-tanda berikut ini dialami secara berulang dan sering terjadi maka dapat disinyalir kamu sedang mengalami silent burnout dan masalah kesehatan mental serius.
Pertama, tubuh sering mengalami kelelahan dengan penyebab yang tidak pasti. Gejala ini dapat ditandai ketika tubuh mengalami kelelahan berlebih padahal aktivitas yang dilakukan merupakan aktivitas ringan.
Kedua, penurunan performa kerja meski telah berupaya maksimal. Seseorang yang mengalami silent burnout dapat mengalami penurunan konsentrasi, hal ini membuat penderitanya membutuhkan waktu yang lebih lama dalam melakukan sebuah pekerjaan.
Ketiga, kehilangan antusiasme dan hilangnya kepedulian terhadap banyak hal. Gejala ini ditunjukkan dengan hilangnya ketertarikan seseorang terhadap suatu hal bahkan pada hal-hal yang sebelumnya dapat membuatnya senang. Aktivitas yang biasanya dirasa menyenangkan secara mendadak tidak memberi perasaan apapun ketika dilakukan. Selain itu rasa peduli terhadap hal lain juga semakin berkurang. Penderita merasa dirinya sudah terlalu lelah untuk melakukan banyak hal, bahkan untuk sekadar memberi perhatian kepada hal kecil.
Keempat, mengalami gangguan tidur. Seseorang dengan silent burnout dapat mengalami gangguan tidur berupa kesulitan tidur nyenyak atau sering terbangun di tengah malam. Atau sebaliknya, penderita silent burnout dapat tidur dengan jangka waktu yang sangat lama sebagai pelarian dari ‘kelelahan’ dan stres yang diarasakan.
Terakhir, mengisolasi diri dari lingkungan sekitar. Ciri terakhir yang dapat ditandai sebagai gejala silent burnout adalah keengganan melakukan interaksi dengan orang lain dan lebih memilih menyendiri. Seseorang dengan silent burnout merasa sudah terlalu lelah untuk bertemu atau berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
Cara Mencegah dan Mengatasi Silent Burnout
Atur Jadwal dan batasan kerja
Aktivitas bekerja secara berlebihan dapat menimbulkan kelelahan berlebihan pada tubuh dan pikiran. Untuk itu, tetapkan dan ikuti batasan waktu yang jelas berapa lama harus bekerja dan beristirahat.
Istirahat teratur dan Olahraga ringan
Ketika sedang beraktivitas dengan banyak tekanan, ambil jeda 5-10 menit setiap jam. Lakukan peregangan, minum air putih, atau sekadar menjauhkan diri dari layar monitor. Kegiatan sederhana ini dapat membantu menurunkan tegangan ketika bekerja. Selain itu, upayakan tidur cukup selama 7-8 jam sehari agar tubuh dapat beristirahat secara maksimal. Lakukan pula olahraga ringan, seperti jalan kaki atau yoga ringan untuk membantu menurunkan kadar stress dan memperbaiki mood.
Bicarakan dengan Profesional Kejiwaan
Apabila gejala dirasa semakin sering muncul dan produktivitas semakin menurun, lakukan konsultasi dengan ahli kejiwaan. Konsultasi kepada ahli membantu secara efektif untuk menemukan sumber masalah, dan menentukan strategi pemulihan dengan tepat bagi kamu yang mengalami gejala silent burnout.
Silent burnout memiliki dampak nyata meskipun kehadirannya datang tanpa kita sadari. Kelelahan akibat silent burnout dapat memberikan pengaruh negatif terhadap kesehatan mental dalam jangka panjang. Kondisi ini juga dapat menyebabkan penurunan daya produktif seseorang bahkan merusak rutinitas harian. Mengenal gejala silent burnout menjadi langkah awal melindungi diri dari kondisi ini. Jangan ragu untuk menemui pakar profesional untuk memperoleh pertolongan. Luangkan waktu untuk beristirahat dan penting untuk memperhatikan sinyal yang diberikan oleh tubuh ketika sampai pada batasannya.