Dari “9 To 5” Menjadi Fleksibel, Apakah Bisa Efektif?
Pekerjaan kantoran biasanya identik dengan 9 to 5 atau rutinitas kantor dari pagi sampai sore, tetapi kini konsep itu mulai berubah seiring dengan berjalannya waktu. Selamat datang di era Work From Anywhere (WFA) sebuah revolusi cara kerja yang membebaskan lokasi, waktu dan merubah rutinitas bekerja kantoran.
Work From Anywhere atau WFA adalah konsep kerja yang memungkinkan karyawan menjalankan tugasnya dari mana saja, selama ada koneksi internet yang stabil dan perangkat yang mendukung. Tidak harus datang ke kantor setiap hari, tidak juga terbatas harus melakukan pekerjaan dirumah tetapi bisa dari kafe favorit, co-working space, bahkan di tempat liburan pun bisa melaksanakan konsep kerja WFA asalkan memiliki koneksi internet yang stabil. WFA bukan sekedar remote work atau work from home (WFH), karena jika WFH biasanya masih punya keterikatan dengan jam kerja tertentu, sedangkan WFA lebih fleksibel, sering kali mengusung pendekatan hasil (output-based) ketimbang waktu kerja (time-based).
Fenomena ini tentu tidak muncul tiba-tiba. Salah satu momen besar yang mendorongnya adalah pandemi COVID-19. Saat itu, banyak perusahaan terpaksa menjalankan sistem kerja jarak jauh untuk menjaga kesehatan karyawannya. Ternyata, banyak pekerjaan yang tetap bisa dilakukan tanpa kehadiran fisik di kantor. Di sisi lain, perkembangan teknologi juga berperan besar. Kehadiran cloud computing, lalu aplikasi kolaborasi seperti Slack, Zoom, Trello, hingga alat bantu berbasis AI, membuat kolaborasi tim tetap lancar meski dilakukan dari jarak jauh. Ditambah lagi, perubahan pola pikir dan kebiasaan generasi muda khususnya milenial dan Gen Z membuat perusahaan harus beradaptasi. Generasi ini semakin menghargai fleksibilitas dan keseimbangan hidup, serta cenderung memilih pekerjaan yang bisa menyesuaikan dengan gaya hidup mereka, bukan sebaliknya.
Walau tidak semua industri bisa menerapkan WFA sepenuhnya, banyak sektor industri sudah mulai mengadopsinya. Industri teknologi dan startup jadi salah satu pelopor. Perusahaan seperti GitLab dan Zapier bahkan sepenuhnya mengadopsi sistem kerja WFA. Beberapa perusahaan besar seperti Twitter (di masa awal pandemi) juga sempat memberikan opsi kerja dari mana saja. Sektor desain dan industri kreatif seperti penulis, illustrator, hingga editor video juga sudah lama akrab dengan sistem kerja fleksibel. Begitu pula dengan bidang digital marketing, di mana peran seperti SEO specialist, content strategist, dan social media manager tidak terlalu bergantung pada kehadiran fisik. Sektor lain seperti konsultan bisnis, analis data, hingga akuntan freelance juga melakukan hal serupa.
Tetapi apakah WFA benar-benar lebih efektif dibanding sistem kerja tradisional? Berdasarkan laporan dari Harvard Business Review tahun 2021, produktivitas karyawan justru meningkat sekitar 13% saat mereka bekerja dari rumah. Sementara itu, studi dari Owl Labs tahun 2022 menunjukkan bahwa sekitar 90% karyawan merasa lebih bahagia dan produktif saat memiliki kebebasan untuk memilih tempat kerjanya. Tentu saja, sistem ini memiliki beberapa tantangan, seperti kurangnya interaksi sosial, potensi kelelahan karena batas antara waktu kerja dan istirahat menjadi kabur, serta kesulitan dalam koordinasi tim, sering kali menjadi hambatan. Namun dengan manajemen yang baik, penggunaan teknologi yang tepat, dan budaya kerja yang sehat, semua tantangan ini dapat diminimalisir.
Pergeseran menuju WFA menunjukkan bahwa definisi "bekerja" kini menjadi lebih fleksibel. Tempat bukan lagi batasan, dan jam kerja tidak lagi kaku selama target dan tanggung jawab terpenuhi. Ini membuka peluang lebih luas untuk kolaborasi lintas kota bahkan lintas negara, dan juga memberi individu kesempatan untuk lebih seimbang antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Namun WFA tidak selalu menjadi solusi yang cocok untuk semua orang atau semua perusahaan.