SASIRANGAN SEBAGAI WARISAN BUDAYA KALIMANTAN SELATAN
Sasirangan adalah kain tradisional yang menjadi kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan, khususnya Suku Banjar, yang menyimpan sejarah panjang dan makna filosofis mendalam. Awalnya, kain ini bukan sekadar pakaian, tetapi diyakini sebagai kain bertuah dengan fungsi magis, yaitu sebagai penolak bala dan penyembuh penyakit, sesuai dengan legenda pembuatannya untuk Putri Junjung Buih atas permintaan Patih Lambung Mangkurat. Setiap warna dan motifnya memiliki simbol khusus yang terinspirasi dari alam dan kehidupan sehari-hari masyarakat Banjar, seperti motif Daun Jaruju yang melambangkan ketahanan, atau Iris Pudak yang mencerminkan keanggunan. Proses pembuatannya yang menggunakan teknik menyirang (mengikat dan menjahit kain sebelum dicelup) merupakan kearifan lokal yang telah diturunkan secara turun-temurun, menjadikan Sasirangan bukan hanya produk tekstil, tetapi juga sebuah narasi budaya yang tertuang dalam helaian kain.
Sebagai warisan budaya takbenda, Sasirangan telah diakui secara nasional oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dan sedang dalam proses pengusulan ke UNESCO untuk mendapatkan pengakuan global. Pengakuan ini penting untuk melindungi keaslian teknik, motif, dan maknanya dari ancaman pemalsuan dan komersialisasi massal. Di Kalimantan Selatan, Sasirangan tidak hanya berfungsi sebagai busana adat dalam upacara penting seperti pernikahan dan penyambutan tamu, tetapi juga telah menjadi simbol identitas yang menyatukan masyarakat. Keberadaannya memperkuat rasa memiliki dan kebanggaan daerah, sekaligus menjadi medium edukasi bagi generasi muda untuk memahami akar budaya mereka.
Di tengah arus globalisasi, Sasirangan menghadapi tantangan sekaligus peluang. Di satu sisi, ia terancam oleh produksi tekstil printing bermotif serupa yang lebih murah dan cepat, serta menurunnya minat generasi muda untuk menjadi perajin tradisional. Namun, di sisi lain, inovasi dan adaptasi kreatif justru membuka jalan baru. Kolaborasi antara perajin tradisional dengan desainer muda telah melahirkan produk-produk kontemporer seperti streetwear, tas, dan dekorasi interior yang diminati pasar nasional maupun internasional. Pemanfaatan teknologi digital untuk pemasaran dan dokumentasi, serta dukungan pemerintah melalui festival dan pelatihan, menjadi kunci agar Sasirangan tidak sekadar menjadi artefak masa lalu, tetapi terus hidup sebagai warisan budaya yang dinamis, relevan, dan menjadi penggerak ekonomi kreatif di Kalimantan Selatan.