Berita

Hujan Deras Picu Longsor di Sirau Purbalingga, Puluhan Warga Mengungsi

N Nofita Nur Safitri Terverifikasi Penulis
21 September 2025, 13:56 3 menit baca 974x dilihat
Hujan Deras Picu Longsor di Sirau Purbalingga, Puluhan Warga Mengungsi
Winnicode Officials

PURBALINGGA – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Karangmoncol sejak Selasa (16/9/2025) siang memicu terjadinya tanah longsor di Dusun Karanggintung, Desa Sirau, Kabupaten Purbalingga. Longsor yang terjadi Rabu (17/9/2025) tersebut merusak dua rumah warga, mengancam empat rumah lain, serta memaksa 30 orang mengungsi ke tempat aman.

     Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purbalingga, Prayitno, menyebut longsor kali ini merupakan longsor susulan dengan skala lebih besar dibandingkan kejadian sebelumnya pada Kamis (11/9/2025). Material tanah dari tebing setinggi sekitar 25 meter di belakang permukiman ambrol, menimbun sebagian rumah warga yang berada di bawahnya.

Longsor menimpa rumah milik Bapak Suprapto dan Bapak Saefurohman. Keduanya rusak berat akibat tertimbun material longsor. Sementara empat rumah lain yang berada di dekat lokasi juga terancam,” kata Prayitno, Rabu malam.

Data Rumah Terdampak

     BPBD Purbalingga mencatat enam kepala keluarga terdampak longsor, dengan total 30 jiwa. Rinciannya sebagai berikut:

  1. Saefurohman, 8 jiwa, rumah rusak berat.
  2. Suprapto, 4 jiwa, rumah rusak berat.
  3. Wartomo, 5 jiwa, rumah terancam longsor.
  4. Madtuhri, 4 jiwa, rumah terancam longsor.
  5. Rasmudin, 4 jiwa, rumah terancam longsor.
  6. Toha, 5 jiwa, rumah terancam longsor.

     Prayitno memastikan tidak ada korban jiwa maupun luka akibat kejadian tersebut. Namun, seluruh keluarga terdampak memilih mengungsi sementara waktu. “Sebanyak enam KK atau 30 jiwa saat ini bermalam di musala terdekat serta rumah kerabat yang dianggap lebih aman,” jelasnya.

Akses Jalan Sempat Terputus

     Longsor juga menimbun jalan pertanian yang menjadi akses utama menuju rumah warga. Akibatnya, lima rumah sempat terisolasi karena tidak bisa dilalui kendaraan maupun pejalan kaki. Untuk mengatasi hal itu, BPBD bersama TNI, Polsek Karangmoncol, perangkat desa, relawan, dan warga bergotong royong membuka akses darurat berupa jalan setapak.

“Kami melakukan kerja bakti bersama masyarakat untuk membuka jalur alternatif. Dengan begitu, kebutuhan logistik dan mobilitas warga bisa tetap berjalan,” tambah Prayitno.

Potensi Longsor Susulan

     Meski penanganan darurat sudah dilakukan, BPBD Purbalingga mengingatkan masyarakat agar tetap waspada. Kondisi tebing di sekitar lokasi masih terdapat banyak rekahan tanah yang berpotensi longsor susulan, terlebih saat hujan dengan intensitas tinggi masih sering turun.

“Tebing yang longsor memang sudah dibuat terasering, tetapi karena kondisi tanah labil, longsor susulan masih sangat mungkin terjadi. Kami mengimbau warga untuk tetap bertahan di lokasi pengungsian atau di rumah kerabat yang lebih aman,” ujarnya.

    Laporan BPBD menyebut, pada Rabu malam sekitar pukul 19.30 WIB, hujan deras masih mengguyur kawasan Karangmoncol. Kondisi tersebut menambah potensi pergerakan tanah di tebing sekitar permukiman warga.

Bantuan Logistik

     Untuk mendukung kebutuhan warga terdampak, BPBD menyalurkan bantuan logistik berupa paket bahan makanan, kebutuhan pokok, dan dua karung beras untuk dapur umum. Bantuan tersebut merupakan jatah hidup dari BNPB yang dialokasikan bagi enam kepala keluarga korban longsor. Selain itu, relawan bersama masyarakat juga bergotong royong membantu warga yang rumahnya rusak maupun terancam. Beberapa barang berharga berhasil dievakuasi sebelum material longsor meluas.

Upaya Lanjutan

Hingga Kamis (18/9/2025), BPBD Purbalingga bersama tim gabungan masih melakukan asesmen lanjutan untuk memetakan dampak kerusakan, kebutuhan darurat, serta rencana penanganan jangka panjang. Pemerintah desa juga terus berkoordinasi dengan aparat terkait guna memastikan keselamatan warga.

“Keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama. Kami mendorong warga agar tidak kembali ke rumah yang berada di area rawan sebelum kondisi benar-benar aman,” tegas Prayitno.

    Peristiwa ini menjadi peringatan bagi masyarakat di kawasan rawan bencana agar meningkatkan kewaspadaan, terutama saat musim hujan. Dengan kesiapsiagaan dan kerja sama antara warga, pemerintah, dan relawan, diharapkan risiko bencana bisa diminimalisir dan korban jiwa dapat dihindari. 

Komentar 0

Komentar (0)

Sampaikan pendapat Anda dengan santun.

G
Anda belum masuk, komentar akan tampil sebagai Guest. Masuk
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.