"KH M Cholil Nafis Tegaskan Pentingnya Pedoman Dakwah untuk Dai Muda"
Jakarta – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH M Cholil Nafis, menegaskan pentingnya para dai muda memahami pedoman dakwah agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat (12/11/2025).
Pernyataan ini disampaikan menanggapi viralnya dua penceramah muda, Gus Elham Yahya Al-Maliki dan Muhammad Izza Sadewa, yang menuai sorotan publik karena gaya dakwah mereka dianggap tidak pantas. Kiai Cholil mengungkapkan bahwa MUI sebenarnya sudah memiliki pedoman dakwah yang bisa dijadikan acuan oleh para dai di seluruh Indonesia. Pedoman tersebut menekankan pentingnya akurasi ilmu, kejujuran dalam menyampaikan pesan agama, dan kesantunan dalam perilaku. “Ya, MUI sudah punya pedoman dakwah yang bisa dipegangi oleh para da’i. Da’i harus memastikan bahwa yang disampaikan benar, dan berkewajiban melakukan apa yang disampaikan,” ujar Kiai Cholil (12/11/2025).
Ia menekankan, seorang penceramah tidak hanya wajib meninggalkan hal yang haram dan menjalankan yang wajib, tetapi juga menjaga kesopanan dan kehormatan dalam berdakwah di hadapan jamaah.“Da’i tidak hanya berkewajiban meninggalkan yang haram dan melaksanakan yang wajib, tetapi juga melakukan yang sopan dan santun,” tambahnya.
Rais Syuriah PBNU tersebut juga mengajak para penceramah untuk menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran bersama agar lebih berhati-hati dan berilmu sebelum menyampaikan ajaran agama. “Mari ambil pelajaran dari semua ini, dan biasakan belajar sebelum mengajar. Tentu kita sadar bahwa manusia itu tempat salah dan keliru, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang meminta maaf,” tutupnya.
Sebelumnya, dua penceramah muda asal Jawa Timur, Gus Elham Yahya dari Kediri dan Izza Sadewa dari Jombang, menjadi sorotan publik. Gus Elham viral karena aksinya mencium pipi anak kecil di atas panggung, sementara Izza Sadewa menuai kritik setelah potongan video ceramah lamanya yang mengaitkan merek rokok dengan nama Allah kembali tersebar di media sosial. Keduanya telah menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf secara terbuka.
Persoalan ini menggarisbawahi pentingnya pemahaman yang benar terhadap pedoman dakwah yang telah disusun oleh MUI sebagai rujukan bagi para dai. Kesantunan, akurasi ilmu, dan kejujuran adalah hal utama yang harus ditegakkan agar dakwah dapat diterima dengan baik dan tidak menimbulkan kontroversi. Peristiwa ini juga menjadi pengingat bagi para penceramah muda untuk terus belajar dan introspeksi demi menjaga kehormatan dakwah dan martabat umat.