Tahukah Kamu

Fenomena FOMO Pengaruh Media Sosial terhadap Perilaku Manusia

E Elfrilia Yolanda Terverifikasi Penulis
12 Maret 2025, 22:10 3 menit baca 620x dilihat
Fenomena FOMO Pengaruh Media Sosial terhadap Perilaku Manusia
Winnicode Officials

 Menurut data yang diperoleh dari Psychological Well Being, perasaan fear of missing out (FOMO) merupakan kondisi psikologis yang didasari oleh rasa takut tertinggal dari seseorang yang memperlihatkan kebahagiaan serta kehidupan yang tampak lebih baik dibandingkan dirinya. Perasaan ini memunculkan pemikiran bahwa dirinya berada dalam posisi yang kurang beruntung atau tertinggal dibandingkan dengan individu lain yang tampaknya memiliki pencapaian lebih tinggi. Hal ini menimbulkan dorongan untuk selalu mengikuti apa yang dimiliki atau dilakukan oleh orang lain agar tidak merasa ketinggalan.

Fenomena ini erat kaitannya dengan maraknya penggunaan media sosial yang memungkinkan seseorang untuk dengan mudah mengakses informasi mengenai kehidupan dan pencapaian orang lain. Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan oleh World Journal of Clinical Cases pada tahun 2021, ditemukan bahwa media sosial berperan penting dalam mempengaruhi perasaan ketidakpercayaan diri seseorang akibat ketertinggalan dari individu lain. Pengguna media sosial sering kali membandingkan dirinya dengan kehidupan yang ditampilkan oleh orang lain di dunia maya, yang sering kali hanya merupakan bagian terbaik dari kehidupan mereka. Hal ini menyebabkan meningkatnya kecemasan sosial serta perasaan kurang percaya diri.

Namun, meskipun FOMO sering dikaitkan dengan dampak negatif terhadap kesehatan mental, sebenarnya perasaan ini juga dapat dimanfaatkan secara positif. Dalam kehidupan sosial generasi Z, FOMO dapat menjadi motivasi untuk membangun koneksi dengan orang baru dan memperluas jejaring sosial. Media sosial yang awalnya memicu rasa takut tertinggal justru dapat digunakan untuk mendapatkan berbagai informasi bermanfaat yang dapat meningkatkan keterampilan dan wawasan.

Lebih dari itu, adanya rasa takut tertinggal juga dapat menjadi dorongan bagi seseorang untuk terus berkembang dalam berbagai aspek kehidupan. Misalnya, individu yang merasa tertinggal dalam bidang akademik atau karier dapat terdorong untuk lebih giat belajar, mengikuti pelatihan tambahan, atau mencari pengalaman baru yang dapat meningkatkan kualitas dirinya. Dengan kata lain, FOMO dapat menjadi pemicu seseorang untuk lebih proaktif dalam menggali potensi diri dan mencoba hal-hal baru.

Dalam dunia bisnis, perasaan FOMO juga sering dimanfaatkan sebagai strategi pemasaran untuk meningkatkan daya tarik suatu produk atau layanan. Dengan menciptakan kesan eksklusivitas atau keterbatasan stok, para pebisnis dapat memanfaatkan rasa takut tertinggal pada konsumen untuk mendorong mereka agar segera melakukan pembelian. Contohnya adalah strategi pemasaran berbasis urgensi seperti penawaran terbatas atau peluncuran produk edisi spesial. Konsumen yang merasa bahwa mereka mungkin akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan suatu produk cenderung lebih impulsif dalam mengambil keputusan pembelian. Dengan demikian, FOMO menjadi faktor yang berpengaruh dalam meningkatkan angka penjualan serta menciptakan loyalitas pelanggan.

Kesimpulannya, FOMO adalah fenomena yang kompleks dengan dampak yang beragam tergantung pada bagaimana seseorang menyikapinya. Jika dikelola dengan baik, perasaan ini dapat menjadi motivasi positif untuk mengembangkan diri, membangun relasi yang lebih luas, serta meningkatkan produktivitas dalam berbagai aspek kehidupan. Namun, jika tidak diatasi dengan bijak, FOMO dapat menyebabkan tekanan emosional serta menurunkan rasa percaya diri. Oleh karena itu, penting bagi individu untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial serta memanfaatkan FOMO secara positif guna mencapai pertumbuhan pribadi dan profesional yang lebih baik. 

Komentar 0

Komentar (0)

Sampaikan pendapat Anda dengan santun.

G
Anda belum masuk, komentar akan tampil sebagai Guest. Masuk
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.