Sosial

Bootcamp Upskilling di Indonesia: Janji Manis Gaji Dua Digit, Realita Banyak yang Kecewa

V Virgiawan Arbi Pratama Terverifikasi Penulis
8 Maret 2025, 03:59 3 menit baca 682x dilihat
Bootcamp Upskilling di Indonesia: Janji Manis Gaji Dua Digit, Realita Banyak yang Kecewa
Winnicode Officials

Dalam beberapa tahun terakhir, bootcamp upskilling di Indonesia semakin menjamur. Dengan iming-iming pelatihan kilat dan janji pekerjaan bergaji minimal dua digit, banyak orang tergiur untuk ikut. Tapi sayangnya, di balik tren positif ini, ada sisi gelap yang mulai terkuak: harga pelatihan yang selangit, janji yang tidak ditepati, dan peserta yang justru keliru fokus hanya mengejar sertifikat.

Harga Selangit, Jaminan Palsu?

Bootcamp saat ini menawarkan berbagai program, mulai dari coding, digital marketing, hingga data science, dengan durasi pelatihan beberapa bulan saja. Tapi jangan salah, biaya yang dipatok bisa mencapai puluhan juta rupiah. Bagi yang tidak mampu bayar langsung, ada opsi cicilan atau bahkan skema income share agreement (ISA) di mana peserta membayar setelah mendapatkan pekerjaan. Sounds good? Tunggu dulu.

Banyak testimoni peserta yang mengaku terjebak. Janji penyaluran kerja dengan gaji tinggi sering kali hanya sebatas promosi. Setelah lulus, banyak yang justru kesulitan mendapatkan pekerjaan, bahkan ada yang merasa tidak cukup siap untuk bersaing di dunia kerja. Beberapa bootcamp yang menawarkan skema ISA justru membebani peserta dengan cicilan tinggi padahal mereka belum mendapatkan pekerjaan yang dijanjikan.

Scam Berkedok Edukasi

Masalahnya, beberapa bootcamp ini lebih mirip money-making machine ketimbang lembaga pendidikan yang benar-benar peduli dengan perkembangan peserta. Ada yang menawarkan ‘mentorship’ tapi ternyata hanya berupa grup chat dengan balasan lambat. Ada juga yang mengklaim memberikan proyek real-world, tapi proyeknya hanya berupa tugas standar yang bisa ditemukan gratis di internet.

Parahnya lagi, ada kasus di mana bootcamp tiba-tiba menghilang setelah menerima pembayaran peserta. Uang melayang, ilmu tak seberapa, kerjaan impian pun semakin jauh.

Peserta yang Salah Fokus: Sertifikat Jadi Dewa

Di sisi lain, banyak peserta yang juga keliru dalam menyikapi bootcamp. Alih-alih benar-benar belajar dan mengasah skill, mereka hanya mengejar sertifikat untuk mempercantik CV. Mereka berharap sertifikat dari bootcamp ternama bisa menjadi ‘golden ticket’ mendapatkan pekerjaan, tanpa benar-benar memahami atau menguasai materi yang diajarkan.

Padahal, perusahaan kini lebih mencari skill nyata ketimbang sekadar selembar sertifikat. Banyak rekruter yang lebih memilih kandidat dengan portofolio nyata dibandingkan mereka yang hanya mengoleksi sertifikat tanpa kemampuan yang mumpuni.

Fenomena ini diperparah dengan budaya sertifikatisme, di mana peserta lebih bangga memamerkan sertifikat di LinkedIn ketimbang benar-benar membuktikan keahlian mereka. Bahkan ada yang sampai rela membayar pelatihan hanya untuk sertifikatnya, tanpa benar-benar mengikuti pembelajaran dengan serius. Ini menyebabkan banyak lulusan bootcamp yang bingung ketika masuk dunia kerja, karena mereka hanya memiliki dokumen pengakuan tanpa keterampilan yang sesuai.

Solusi: Jangan Termakan Iklan, Pilih dengan Cerdas

Bootcamp bisa jadi jalan pintas untuk meningkatkan skill, tapi perlu diingat: tidak semua bootcamp bisa dipercaya. Sebelum mendaftar, pastikan untuk melakukan riset terlebih dahulu. Cek testimoni alumni, transparansi kurikulum, dan rekam jejak bootcamp tersebut. Jika mereka terlalu banyak menjanjikan hal yang ‘too good to be true’, besar kemungkinan ada yang tidak beres.

Dan bagi peserta, ingatlah bahwa ilmu lebih penting daripada sekadar sertifikat. Jika ingin benar-benar sukses di industri, jangan hanya duduk manis menunggu pekerjaan datang setelah lulus bootcamp. Belajarlah dengan sungguh-sungguh, bangun portofolio, dan tunjukkan bahwa kamu benar-benar menguasai skill yang dibutuhkan.

Jadi, bootcamp: peluang atau jebakan? Jawabannya ada di tangan kita sendiri.

Komentar 0

Komentar (0)

Sampaikan pendapat Anda dengan santun.

G
Anda belum masuk, komentar akan tampil sebagai Guest. Masuk
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.