Sosial dan Budaya

Tradisi Mulai Pudar, Layar Mulai Dibudidayakan

M Muslim Hadait Terverifikasi Penulis
10 Desember 2025, 14:48 2 menit baca 558x dilihat
Tradisi Mulai Pudar, Layar Mulai Dibudidayakan
Winnicode Officials

Di banyak sudut kehidupan, kita mulai melihat pergeseran yang begitu halus namun sangat terasa: tradisi yang dulu hidup dan penuh makna kini perlahan memudar, sementara layar dalam berbagai bentuknya, mulai dibudidayakan seperti tanaman yang dirawat dengan kesetiaan baru. Dahulu, kebersamaan tercipta dari percakapan langsung, dari tatap mata yang utuh, dari suara yang tidak tersaring getaran digital. Kini, banyak momen berubah menjadi sekadar notifikasi.

Fenomena ini bukan hanya tentang teknologi mengambil ruang dalam hidup manusia, tetapi juga tentang bagaimana budaya mulai bergeser tanpa disadari. Tradisi yang diwariskan turun-temurun, seperti berkumpul di serambi rumah, mendengar petuah orang tua, atau bermain permainan lokal di halaman kampung, kini semakin jarang kita temui. Generasi muda tumbuh dengan dunia yang berbeda: dunia yang datar, bercahaya, dan selalu dapat digeser dengan ujung jari.

Layar menjadi ruang baru bagi perhatian manusia. Tempat belajar, tempat bekerja, tempat berkeluh kesah, bahkan tempat berlindung dari realitas sosial. Sebagian besar interaksi kini berlangsung di dalam kotak-kotak digital. Namun, seiring kenyamanan yang ditawarkan, layar juga membawa kebiasaan baru: kesunyian di tengah keramaian, jarak di tengah kedekatan, dan lupa terhadap akar budaya yang seharusnya menjadi identitas.

Namun, perubahan ini tentu tidak sepenuhnya buruk. Layar memberi banyak kemudahan, mempererat hubungan jarak jauh, menyediakan akses ilmu tanpa batas, dan membuka peluang yang mungkin tidak pernah hadir pada masa sebelumnya. Hanya saja, ketika layar mulai mengambil alih peran tradisi, kita perlu bertanya: apa yang tersisa dari diri kita sebagai sebuah masyarakat?Tradisi tidak hilang secara tiba-tiba. Ia pudar karena tidak lagi dipraktikkan. Ia mati bukan karena tidak relevan, tetapi karena tidak diperjuangkan. 

Pada akhirnya, peradaban bergerak bukan hanya oleh inovasi, tetapi juga oleh ingatan. Jika tradisi ingin tetap hidup, kita harus menghadirkannya kembali, di meja makan, di ruang keluarga, di acara kampung, dalam percakapan sehari-hari. Karena bangsa yang kehilangan tradisinya adalah bangsa yang kehilangan arah. Dan layar, betapapun canggihnya, tidak akan pernah menggantikannya.

Komentar 0

Komentar (0)

Sampaikan pendapat Anda dengan santun.

G
Anda belum masuk, komentar akan tampil sebagai Guest. Masuk
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.