"Ironi Langit 2026: Mengapa Kembang Api Terasa Sesak di Tengah Duka Sumatera?"
Tahukah Kamu? – Bahwa pada malam pergantian tahun 2026 ini, langit Indonesia menyimpan wajah ganda yang sangat kontras. Di satu sisi, ribuan kembang api meledak megah, mewarnai cakrawala kota-kota besar dengan cahaya warna-warni yang menggelegar. Namun, di sisi lain, tepatnya di tanah Sumatera, gelegar yang terdengar bukanlah sorak-sorai, melainkan gemuruh tanah longsor, banjir bandang, dan tangis warga yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana alam parah yang melanda sejak penghujung Desember 2025.
Peristiwa paradoks ini terjadi tepat pada pukul 00.00 WIB, 1 Januari 2026. Di saat jutaan orang menghabiskan miliaran rupiah hanya untuk membakar mesiu di udara, saudara-saudara kita di beberapa titik di Sumatera justru sedang berjibaku melawan air yang merendam pemukiman mereka. Mengapa fenomena ini terasa begitu menyesakkan? Karena gejolak cahaya di langit seolah menjadi tabir yang menutupi realitas gelap di atas tanah Andalas.
Siapa yang harus bertanggung jawab atas hilangnya empati kolektif ini? Bukan berarti kegembiraan dilarang, namun ketidakseimbangan antara kemewahan selebrasi dan kepedulian sosial menjadi cermin betapa renggangnya solidaritas kita. Mengapa kita begitu mudah menghamburkan biaya untuk euforia sesaat, sementara akses logistik dan obat-obatan untuk korban bencana di Sumatera seringkali terkendala dana dan armada.
Bencana alam yang melanda Sumatera kali ini bukan sekadar faktor cuaca ekstrem, melainkan akumulasi dari kerusakan lingkungan yang kian nyata. Gelegar kembang api di malam tahun baru seharusnya menjadi alarm pengingat, bukan sekadar hiburan. Ledakan di langit tersebut secara simbolis menggambarkan bagaimana manusia seringkali lebih mencintai "ilusi cahaya" dibandingkan memperhatikan bumi yang sedang mengerang kesakitan.
Peristiwa ini menuntut kita untuk mengubah orientasi perayaan. Sudah saatnya anggaran kembang api yang bernilai fantastis dialihkan menjadi dana taktis bencana atau reboisasi hutan yang kian gundul di Sumatera. Jika kita terus membiarkan kontradiksi ini terjadi, maka malam tahun baru hanya akan menjadi ritual tahunan yang memamerkan ketulian nurani kita terhadap derita alam dan sesama.
Oleh karena itu, perayaan malam tahun baru 2026 seharusnya menjadi titik balik bagi kita semua untuk lebih mengedepankan empati daripada euforia semata, dengan menyadari bahwa kebahagiaan sejati tidak akan pernah lengkap jika dibangun di atas pengabaian terhadap penderitaan saudara sebangsa dan kerusakan lingkungan yang kian mengkhawatirkan.