Sosial dan Budaya

Fenomena “Mabar Dulu” Menggeser Waktu Keluarga

M Muslim Hadait Terverifikasi Penulis
5 Desember 2025, 15:53 2 menit baca 532x dilihat
Fenomena “Mabar Dulu” Menggeser Waktu Keluarga
Winnicode Officials

Pada era serba digital seperti sekarang, ajakan mabar dulu, main bareng dalam gim online, kini telah menjadi aktivitas sosial baru yang sangat populer, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda. Mabar bukan hanya soal bermain gim; ia berubah menjadi ruang nongkrong virtual, tempat tertawa, berstrategi, dan merayakan kemenangan bersama teman. Namun, di balik keseruannya, ada fenomena lain yang mulai terlihat: waktu keluarga secara perlahan tersisih dan tergeser oleh dunia virtual.

Dulu, waktu sore atau malam sering menjadi momen berkumpul keluarga. Entah sekadar duduk bersama, menonton acara favorit, atau bercakap ringan setelah lelah beraktivitas. Kini, banyak anak, bahkan orang dewasa yang langsung menuju layar masing-masing begitu sampai di rumah. “Bentar, mabar dulu,” menjadi alasan untuk menunda obrolan keluarga, menolak ajakan makan bersama, bahkan mengabaikan percakapan sederhana yang dulu terasa sangat hangat.

Fenomena ini bukan berarti mabar itu buruk. Bermain gim bisa meningkatkan kreativitas, kemampuan bekerja sama, dan mempererat hubungan antar teman. Namun, ketika keseimbangan mulai hilang, ketika keluarga seperti menjadi “tabungan waktu yang bisa dibayar nanti,” maka yang terjadi adalah renggangnya hubungan yang seharusnya paling kuat. Banyak orang tidak sadar bahwa waktu keluarga bukan sekadar kebiasaan; ia adalah fondasi emosional yang membentuk rasa aman, kedekatan, dan pemahaman satu sama lain.

Beberapa orang tua mulai merasa jauh dari anak-anaknya karena percakapan hanya terjadi singkat, sering kali di sela-sela permainan. Sementara anak merasa bahwa dunia gim lebih seru, lebih bisa dipahami, dan lebih “hidup” dibanding suasana rumah yang kadang dianggap membosankan. Padahal, kehangatan keluarga tidak datang dari hal-hal besar. Ia hadir dari hal-hal kecil: senyum saat bertemu, makan bersama, saling mendengar walau sebentar.

Di sisi lain, keluarga juga perlu memahami bahwa mabar adalah bagian dari gaya hidup digital masa kini. Melarang total bukan solusi. Justru yang paling baik adalah menciptakan ruang kompromi: menetapkan jam mabar, membuat waktu keluarga yang jelas, atau sekadar saling mengingatkan dengan cara yang lembut. Keseimbangan bukan soal membatasi kebahagiaan, tetapi mengatur agar semuanya mempunyai tempat yang proporsional.

Pada akhirnya, dunia virtual memang menyenangkan, tetapi dunia nyata memberikan hubungan yang tidak tergantikan. Mabar boleh, bahkan menyenangkan. Tapi jangan sampai “sebentar lagi” berubah menjadi “selalu nanti.” Karena waktu keluarga, sekali hilang, tidak bisa direstart seperti gim.   

Komentar 0

Komentar (0)

Sampaikan pendapat Anda dengan santun.

G
Anda belum masuk, komentar akan tampil sebagai Guest. Masuk
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.