Psikologi

Starry Night: Simfoni Warna dan Cahaya Sebagai Representasi Mental Van Gogh

F Fara Dilla Nur Safitri Terverifikasi Penulis
16 Mei 2025, 21:53 2 menit baca 487x dilihat
Starry Night: Simfoni Warna dan Cahaya Sebagai Representasi Mental Van Gogh
Winnicode Officials

Banyak dari kalian yang mungkin sudah pernah melihat lukisan diatas. Salah satu lukisan bersejarah tersebut diciptakan dan dilukis oleh Vincent Van Gogh. 

Di malam sunyi, ia mengambil cat minyak dan paletnya. Tangannya menari dengan indah diatas media putih yang digunakan sebagai penghantar emosinya. Cahaya malam yang dihasilkan oleh bulan membuatnya semakin larut dalam lukisannya. Sampai pada akhirnya, lukisan dengan semburat pusaran awan biru di malam hari terlihat jelas. Benda bersinar yang menyinarinya juga tidak lupa ia lukis dengan warna kuning.

Saint Paul de Mausole, sebuah rumah sakit jiwa tempat dimana Van Gogh melukis karya Starry Night. Matanya melihat ke arah luar jendela, menikmati pemandangan langit malam dan suasana yang tenang. Namun, suasana tersebut belum berhasil menenangkan jiwanya yang mengalami pergulatan batin.

Ia melukis pemandangan dari luar jendela tersebut dengan perasaannya. Begitu juga rumah-rumah kecil dibawahnya yang terlihat seperti suasana desa. Beberapa seniman mulai tertarik dan bertanya-tanya tentang bagaimana ia menggambar langit malam dengan pusaran. Ternyata, setelah Van Gogh meninggal— fenomena pusaran tersebut dikenal dengan Turbulensi Fluida. 

Lukisan yang kini menjadi sejarah, dulunya tidak disukai oleh pelukisnya. Ya, Van Gogh tidak menyukai lukisan ini. Ia merasa bahwa lukisan yang ia buat saat berada di rumah sakit jiwa tersebut sangat terasa tidak nyata. Ia lebih menyukai lukisan yang sangat realistis. 

Walaupun begitu, lukisan Starry Night telah menjadi karya legendary dari Van Gogh saat ia mengalami kondisi mental yang tidak baik. Perpaduan antara langit biru yang memiliki pusaran dengan desa kecil dibawahnya dapat diketahui sebagai perpaduan yang sangat kontras. Ia merepresentasikan kondisi mental dan batinnya yang kacau dengan kondisi langit malam. Satu hal yang ia inginkan adalah kedamaian seperti kehidupan dan suasana di bawah langit malam. 

"why, I ask myself, shouldn't the shining dots of the sky be as accessible as the black dots on the map of France?" Vincent Van Gogh (1888).

Komentar 0

Komentar (0)

Sampaikan pendapat Anda dengan santun.

G
Anda belum masuk, komentar akan tampil sebagai Guest. Masuk
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.