Oedipus Complex: Psikoanalisis dalam Tragedi Oedipus Rex dang Sangkuriang
Apa Itu Oedipus Complex?
Oedipus Complex adalah teori yang dikemukakan oleh Sigmund Freud dalam psikoanalisisnya. Secara singkat, teori ini didefinisikan sebagai anak laki-laki yang mengalami ketertarikan emosional dan bahkan ketergantungan terhadap ibunya, serta melihat ayahnya sebagai saingan. Istilah ini diambil dari tragedi Yunani kuno Oedipus Rex karya Sophocles, yang mengisahkan seorang pria yang tanpa sadar membunuh ayahnya dan menikahi ibunya.
Oedipus Complex dalam Oedipus Rex
Dalam Oedipus Rex, Oedipus adalah putra Raja Laius dan Ratu Jocasta dari Thebes. Namun, karena ramalan bahwa ia akan membunuh ayahnya dan menikahi ibunya, Oedipus dibuang sejak bayi. Takdir membawanya kembali ke Thebes tanpa mengetahui asal-usulnya. Di tengah perjalanan, ia membunuh seorang pria yang ternyata adalah ayahnya sendiri, Raja Laius. Setelah itu, ia tiba di Thebes, menyelamatkan kota dari Sphinx, dan dihadiahi tahta serta pernikahan dengan ratu, yang tidak lain adalah ibunya sendiri, Jocasta.
Ketika kebenaran terungkap, tragedi pun terjadi, Jocasta mengakhiri hidupnya, sementara Oedipus mencungkil matanya sendiri sebagai bentuk hukuman dan penyesalan.
Oedipus Complex dalam cerita Sangkuriang
Hampir mirip dengan cerita Oedipus Rex, Sangkuriang yaitu legenda Indonesia yang begitu terkenal memiliki alur cerita yang serupa. Dayang Sumbi, seorang Wanita cantik menikahi anjing Bernama Tumang dan memiliki anak bernama Sangkuriang. Tanpa sengaja Tumang terbununh oleh Sangkuriang, Dayang Sumbi marah lalu memukul kepala Sangkuriang menggunakan sendok dan berbekas lalu diusir. Saat Sangkurian dewasa, ia bertemu Dayang Sumbi yang masih awet muda dan jatuh cinta padanya tanpa mengetahui bawa wanita itu adalah ibunya. Sangkuriang ingin menikahinya, tapi lambat laun Dayang Sumbi kalau pria yang ingin menikahinya adalah anaknya berdasarkan bekas luka di kepala anak itu.
Untuk menolak halus lamaran, Dayang Sumbi memberi syarat yaitu membuat perahu dan danau dalam semalam. Sangkurian bersedia, tapi dalam pengerjaannya dibantu jin, Ketika hampir selesai Dayang Sumbi panik sehingga membuat jebakan dengan mengibarkan selendang agar ayam mengira sudah pagi lalu berkokok. Pekerjaan Sangkurian belum selesai, karena jin keburu takut dengan pagi. Sangkuriang marah dan menendang perahu itu sampai terbalik sehingga menjadi Gunung Tangkuban Perahu.
Oedipus Complex dalam Kehidupan Nyata
Freud berpendapat bahwa dalam tahap perkembangan psikoseksual, anak laki-laki cenderung memiliki ketertarikan emosional terhadap ibunya dan melihat ayahnya sebagai saingan dalam merebut perhatian sang ibu. Namun, pada perkembangan normal, anak akhirnya mengidentifikasi diri dengan ayahnya dan melepaskan perasaan tersebut seiring bertambahnya usia.
Kebalikan dengan Oedipus complex, ada Electra Compleks di mana anak perempuan tertarik pada ayahnya dan menganggap ibunya sebagai saingan.
Meski teori ini kontroversial, banyak psikolog yang mengadaptasi konsep Freud untuk memahami dinamika keluarga dan perkembangan psikologis anak. Oedipus Complex sering menjadi bahan analisis dalam sastra, film, dan bahkan terapi psikologis.
Jadi, Oedipus Rex bukan semata-mata tragedi Yunani klasik atau cerita Sangkuriang, tetapi juga menjadi dasar bagi teori psikologi modern. Konsep Oedipus Complex yang diusulkan Freud menggambarkan bagaimana hubungan keluarga dapat mempengaruhi perkembangan psikologis seseorang. Meskipun tidak semua orang mengalami Oedipus Complex secara ekstrem seperti dalam mitos Oedipus, teori ini tetap menjadi salah satu konsep penting dalam memahami psikologi manusia.