Psikologi

Antara Motivasi Agresif dan Psikologi Menenangkan: Mengapa Media Sosial Membuat Kita Bingung?

N Nur Afiyah Syamilah Terverifikasi Penulis
24 Februari 2025, 16:42 3 menit baca 449x dilihat
Antara Motivasi Agresif dan Psikologi Menenangkan: Mengapa Media Sosial Membuat Kita Bingung?
Winnicode Officials

Media sosial kini telah menjadi tempat utama informasi dan inspirasi bagi banyak orang. Namun, alih-alih mendapatkan jawaban yang jelas, justru sering kali kita terjebak dalam kebingungan akibat pesan-pesan yang kontradiktif. Salah satu fenomena yang semakin sering terjadi adalah kebingungan antara "motivasi agresif" yang mendorong kita untuk terus berjuang tanpa henti dan "psikologi menenangkan" yang mengajarkan penerimaan atas keadaan kita saat ini. Dua pendekatan ini sering kali bertentangan, menciptakan dilema dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi mereka yang sedang berjuang menemukan jalan hidupnya.

Motivator ataupun infuencer di media sosial sering kali memberikan dorongan keras dengan gaya bicara yang penuh semangat, bahkan terkadang terkesan menyalahkan. Pesan mereka biasanya berbunyi, "Kamu gagal bukan karena keadaan, tapi karena kamu kurang usaha!" atau "Orang-orang sukses itu tidak pernah mengeluh, mereka hanya bekerja lebih keras!” yang terdengar seperti toxic motivation sampai “Berusahalah 1000 kali lebih keras dari orang lain!” Meskipun kata-kata ini bisa memacu semangat bagi sebagian orang, bagi mereka yang sudah berusaha mati-matian tetapi belum berhasil, kata-kata ini justru bisa menjadi beban. Mereka mulai mempertanyakan diri sendiri, "Apakah aku benar-benar malas? Apakah aku kurang usaha?" Padahal, dalam kenyataannya, kesuksesan tidak selalu datang hanya dari kerja keras semata. Ada faktor lain seperti kesempatan, koneksi, dan keberuntungan yang juga berperan.

Di sisi lain, ada konten dari psikolog atau praktisi kesehatan mental yang cenderung lebih menenangkan. Mereka memberikan pesan seperti, "Tidak apa-apa jika kamu merasa sedih," atau "Setiap orang punya waktu dan jalannya masing-masing, jangan bandingkan dirimu dengan orang lain." Pendekatan ini lebih menitikberatkan pada penerimaan diri dan menghindari tekanan yang berlebihan. Bagi mereka yang mengalami kelelahan mental dan tekanan sosial, pesan ini bisa menjadi penghiburan dan membantu mereka untuk tidak menyalahkan diri sendiri. Namun, di sisi lain, terlalu banyak berpegang pada prinsip ini juga bisa membuat seseorang menjadi terlalu nyaman dengan keadaannya dan kurang berusaha untuk keluar dari kesulitan.

Persoalannya, bagaimana kita bisa menemukan keseimbangan di antara dua pendekatan ini? Jawabannya adalah fleksibilitas. Tidak semua nasihat cocok untuk semua orang dalam setiap situasi. Saat kita merasa kehilangan motivasi dan butuh dorongan untuk bangkit, mendengar kata-kata motivator bisa menjadi pemacu semangat. Namun, ketika kita sudah berusaha semaksimal mungkin dan tetap mengalami kegagalan, maka tidak ada salahnya untuk mengambil napas sejenak dan mendengarkan pesan-pesan yang lebih menenangkan.

Dunia tidak bekerja dalam hitam dan putih. Kesuksesan bukan hanya tentang seberapa keras kita bekerja, tetapi juga bagaimana kita menyesuaikan diri dengan keadaan dan tahu kapan harus melaju dan kapan harus berhenti sejenak. Alih-alih terjebak dalam kebingungan akibat dua perspektif ekstrem ini, kita bisa belajar untuk menyeimbangkannya sesuai dengan kebutuhan dan keadaan kita sendiri. Dengan demikian, media sosial tidak lagi menjadi sumber tekanan, tetapi menjadi alat yang bisa kita gunakan dengan bijak untuk pengembangan diri.

Yuk, jadikan media sosial sebagai sumber inspirasi yang sehat, karena perjalanan hidup kita unik dan kita berhak menentukan ritme terbaik untuk maju!

Komentar 0

Komentar (0)

Sampaikan pendapat Anda dengan santun.

G
Anda belum masuk, komentar akan tampil sebagai Guest. Masuk
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.