Memahami Konsep Ego Menurut Sigmund Freud: Antara Naluri dan Kesadaran
Pernahkah kalian merasa ada suara dalam diri yang terus mendorong untuk melakukan sesuatu yang buruk, berbohong contohnya. Meskipun kalian tahu bahwa berbohong itu salah satu sikap yang tidak baik dilakukan, ada bagian laing dalam diri kalian yang bilang “jangan, itu salah”?. Nah, itu merupakan salah satu cara kerja ego dalam teori psikoanalisis yang digagas oleh Sigmund Freud pada tahun 1990-an. Freud menyebutkan bahwa kepribadian manusia berasal dari proses yang tidak disadari. Proses itu dapat berupa dari pemikiran, rasa takut, kejadian tidak mengenakan seperti dialrang, dihukum oleh orang tua ataupun masyarakat. Hal itu dapat berpengaruh pada kebiasaan seperti keliru dalam berbicara, cara kebiasaan, lamunan, bahkan hinggga bentuk artistik serta sastra. Sigmund freud membagi kepribadian manusia menjadi tiga bagian utama, yakni Id, Ego, dan Superego.
Aspek id yang terdapat dalam bagan kepribadian manusia merupakan pembawaan sejak lahir. Bagian id merupakan sistem original dalam jiwa yang berisikan hal-hal yang dibawa sejak lahir, atau unsur-unsur biologis. Konsep id itu ialah mencari ‘kenikmatan’ hingga dapat meredam ketegangan dengan mengejar kepuasan. Id tidak mampu membedakan khayalan dengan kenyataan, tidak mampu membedakan benar dan salah.
Ego memiliki peran dalam memilih keinginan untuk dilaksanakan berdasarkan prioritas. Ego memiliki kemampuan untuk menunda kenikmatan sampai ditemukan objek yang nyata dan dapat memuaskan kebutuhan. Ego ini dapat berupa nilai-nilai yang tumbuh dalam masyrakat, norma, peraturan keluarga ataupun masyarakat. Ego ini lah yang menjadi peran penting dalam mempertimbangkan dorongan Id agar dapat diterima dalam dunia nyata.
Superego atau bagian ketiga dalam kepribadian manusia menurut Sigmund Freud. Superego merupakan aspek morak kepribadian yang menentukan sesuatu itu benar atau salah, pantas atau tidak, susila atau tidak yang sesuai dengan lingkungan masyarakat. Fungsi utama dari superego sendiri, yaitu a) membatasi dorongan spontan dari aspek Id terutama dorongan akan seksual, b) mendorong ego untuk mengejar hal-hal yang bermoral, c) mengejar kesempurnaan.
Berdasarkan penjelasan sederhana mengenai tiga aspek yang membangun kepribadian manusia, maka diharapkan kalian dapat menjaga keseimbangan dalam ketiganya. Dari keseimbangan itulah diharapkan juga seseorang dapat bertindak secara rasional sekaligus tetap berpegang pada nilai-nilai moral yang berlaku pada masyrakat. Serta dengan mengenali peran Id, Ego, dan Superego dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa menciptakan kesimbangan batin dan menjadi pribadi yang lebih sadar, tenang, dan bertanggung jawab dalam setiap tindakan.
Referensi :
Rachmana, A. K., & Wahyuniarti, F. R. (2021). Struktur kepribadian tokoh Lilian dalam novel Pink Cupcake karya Ramya Hayasrestha Sukardi (Sastra anak dalam perspektif psikoanalisis Sigmund Freud). KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 7(2), 490–507.