Psikologi & Perilaku

Learned Helplessness: Saat Pikiran Belajar untuk Menyerah

M MUHAMMAD ALIFI AROICHAN Terverifikasi Penulis
23 Desember 2025, 02:22 2 menit baca 806x dilihat
Learned Helplessness: Saat Pikiran Belajar untuk Menyerah
Winnicode Officials

Pernahkah seseorang berhenti berusaha bukan karena tidak mampu, tetapi karena merasa usahanya tidak akan pernah mengubah apa pun? Kondisi inilah yang dalam psikologi dikenal sebagai learned helplessness atau ketidakberdayaan yang dipelajari. Istilah ini menggambarkan keadaan ketika individu belajar dari pengalaman berulang bahwa tindakan mereka tidak membawa hasil, sehingga akhirnya memilih menyerah bahkan sebelum mencoba. Fenomena ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan terbentuk melalui pengalaman kegagalan, tekanan, atau ketidakadilan yang terus-menerus.

Konsep learned helplessness pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Martin E. Seligman pada akhir 1960-an melalui eksperimen terkenal terhadap anjing. Dalam penelitian tersebut, hewan yang berulang kali menerima kejutan listrik tanpa bisa menghindarinya akhirnya tidak lagi berusaha melarikan diri, meskipun jalan keluar sudah tersedia. Temuan ini kemudian dikaitkan dengan perilaku manusia, khususnya dalam konteks depresi, kecemasan, dan rendahnya motivasi. Penelitian lanjutan menunjukkan bahwa individu yang mengalami learned helplessness cenderung memiliki pola pikir pesimis dan merasa tidak memiliki kontrol atas hidupnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, learned helplessness dapat muncul di berbagai konteks, mulai dari pendidikan, pekerjaan, hingga relasi sosial. Siswa yang terus-menerus dianggap “tidak mampu” bisa berhenti mencoba belajar. Pekerja yang merasa suaranya tidak pernah didengar dapat kehilangan inisiatif. Bahkan dalam hubungan personal, seseorang bisa bertahan dalam situasi tidak sehat karena merasa perubahan adalah sesuatu yang mustahil. Kondisi ini sering kali tidak disadari, karena telah menjadi bagian dari cara berpikir dan merespons dunia.

Namun, learned helplessness bukanlah kondisi permanen. Psikologi modern menunjukkan bahwa pola ini dapat diubah melalui pendekatan seperti cognitive behavioral therapy (CBT), penguatan rasa kendali, dan pengalaman sukses yang bertahap. Seligman sendiri kemudian mengembangkan konsep learned optimism, yang menekankan bahwa cara seseorang menafsirkan peristiwa dapat dilatih ulang. Dengan membangun kesadaran bahwa kegagalan tidak selalu bersifat pribadi dan permanen, individu dapat kembali menemukan motivasi untuk bertindak.

Pada akhirnya, memahami learned helplessness membantu kita melihat bahwa menyerah sering kali bukan soal kelemahan karakter, melainkan hasil dari proses belajar yang keliru. Kesadaran ini penting, baik untuk diri sendiri maupun dalam memperlakukan orang lain. Dengan lingkungan yang lebih suportif dan pemahaman psikologis yang tepat, rasa tidak berdaya dapat diurai perlahan. Dari sana, harapan dan keyakinan akan perubahan bisa tumbuh kembali, satu langkah kecil pada satu waktu.

Referensi:

  1. Seligman, M. E. P. (1975). Helplessness: On Depression, Development, and Death. W.H. Freeman.
  2. American Psychological Association. (2022). Learned Helplessness.
  3. Abramson, L. Y., Seligman, M. E. P., & Teasdale, J. D. (1978). Learned helplessness in humans: Critique and reformulation. Journal of Abnormal Psychology.
Komentar 0

Komentar (0)

Sampaikan pendapat Anda dengan santun.

G
Anda belum masuk, komentar akan tampil sebagai Guest. Masuk
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.