Psikologi & Kesehatan Mental

Multitasking Picu Kelelahan Otak dan Tubuh, Ini Tanda-Tandanya

N Nofita Nur Safitri Terverifikasi Penulis
11 Desember 2025, 04:32 2 menit baca 544x dilihat
Multitasking Picu Kelelahan Otak dan Tubuh, Ini Tanda-Tandanya
Winnicode Officials

Aktivitas multitasking yang kian menjadi kebiasaan di tempat kerja maupun rutinitas harian terbukti membawa dampak serius bagi kesehatan. Para ahli kognitif menilai, otak manusia tidak dirancang untuk menangani banyak tugas dalam waktu bersamaan. Ketika dipaksakan, tubuh memberikan sejumlah sinyal kelelahan yang patut diwaspadai.

Penurunan konsentrasi menjadi gejala paling umum. Individu yang melakukan multitasking intens kerap mengalami attention switching berlebihan, membuat otak bekerja lebih berat. Akibatnya, muncul keluhan sulit fokus, mudah lupa, hingga sering mengulang pekerjaan.

Selain itu, keluhan fisik turut muncul. Rasa pusing, kepala berat, serta ketegangan otot di leher dan punggung menjadi indikator bahwa tubuh mengalami tekanan akibat beban kognitif yang tinggi. Pakar kesehatan kerja menyebut keluhan tersebut sebagai respons stres fisik yang muncul ketika otak berada dalam kondisi tertekan.

Kualitas tidur juga terdampak. Otak yang sejak pagi dipaksa mengolah banyak informasi cenderung sulit berada dalam kondisi rileks saat malam hari. Kondisi ini membuat tidur menjadi dangkal dan tidak pulih, sehingga keesokan paginya tubuh tetap terasa lelah.

Dari sisi emosional, multitasking yang berlebihan memicu peningkatan iritabilitas. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kapasitas otak untuk mengatur emosi menurun ketika beban kerja kognitif terlalu besar. Individu menjadi mudah tersinggung, gelisah, atau merasakan tekanan tanpa penyebab yang jelas.

Gejala lainnya adalah perubahan fisiologis, seperti detak jantung meningkat dan ritme napas menjadi pendek. Kedua kondisi ini terkait dengan activation of stress response yang berulang, yang dalam jangka panjang dapat mengganggu kesehatan kardiovaskular.

Ironisnya, multitasking kerap dipahami sebagai ciri produktivitas tinggi. Padahal, studi psikologi menunjukkan bahwa aktivitas ini justru membuat efisiensi menurun. Waktu pengerjaan membengkak, kualitas hasil pekerjaan menurun, dan risiko kesalahan meningkat.Para pakar mengingatkan pentingnya mengenali tanda-tanda tersebut sebelum berubah menjadi kelelahan kronis. Mengatur ritme kerja, melakukan jeda pendek, serta mengerjakan satu tugas secara terfokus dinilai jauh lebih efektif dibanding memaksakan multitasking.

Seiring meningkatnya tekanan kerja di era digital, para ahli menekankan bahwa kemampuan membatasi beban kognitif bukan sekadar strategi produktivitas, tetapi kebutuhan kesehatan jangka panjang.

Komentar 0

Komentar (0)

Sampaikan pendapat Anda dengan santun.

G
Anda belum masuk, komentar akan tampil sebagai Guest. Masuk
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.