Psikologi & Kesehatan Mental

Kenapa Kita Cenderung Memilih Lagu yang Relate dengan Perasaan untuk Mengungkapkan Emosi?

N Nandyta Alifia Denila Didha Putri Hartono Terverifikasi Penulis
18 Februari 2026, 05:53 5 menit baca 2,839x dilihat
Kenapa Kita Cenderung Memilih Lagu yang Relate dengan Perasaan untuk Mengungkapkan Emosi?
Winnicode Officials

Pernah merasa satu lagu seolah menceritakan kisah hidup sendiri? Banyak orang membagikan potongan lagu di media sosial saat galau, jatuh cinta, atau patah hati. Ada pula yang mengirim lagu tertentu sebagai “kode” perasaan kepada seseorang. Fenomena ini menunjukkan bahwa lagu relate dengan perasaan bukan sekadar hiburan, tetapi juga medium ekspresi emosi yang kuat.

Di balik kebiasaan ini, ada faktor psikologis, sosial, dan budaya yang membuat musik menjadi bahasa perasaan yang universal. Lalu, mengapa kita cenderung mengungkapkan perasaan lewat lagu?

Musik sebagai Bahasa Emosi

Sejak dahulu, musik hadir dalam hampir semua budaya sebagai bentuk ekspresi. Nada, ritme, dan lirik mampu menyampaikan emosi tanpa perlu kata-kata langsung. Inilah yang membuat musik sering disebut sebagai bahasa universal.

Saat seseorang mendengar lagu yang sesuai dengan suasana hatinya, otak secara otomatis mengaitkan pengalaman pribadi dengan bunyi dan lirik yang terdengar. Inilah alasan mengapa banyak orang merasa lagu tertentu “ngena banget” atau terasa sangat personal.

Dalam konteks psikologi, musik mampu memicu respons emosional karena melibatkan sistem limbik di otak, yaitu pusat pengaturan emosi dan memori. Tak heran jika psikologi musik dan emosi menjadi bidang studi tersendiri dalam ilmu psikologi modern.

Dalam kaca mata psikologi, disinyalir musik dapat menjadi emotional resonance atau resonansi emosional. Ketika lirik lagu mencerminkan pengalaman pribadi, misalnya kisah cinta, kehilangan, atau harapan otak merespons dengan empati.

Fenomena ini juga berkaitan dengan teori mood congruent selection, salah satu bentuknya adalah kecenderungan manusia memilih lagu sesuai suasana hati. Saat sedih, orang cenderung mendengarkan lagu sedih; saat bahagia, playlist pun dipenuhi lagu ceria.

Keterhubungan ini membuat lagu terasa seperti cermin perasaan. Tanpa harus bercerita panjang, seseorang bisa menunjukkan emosinya hanya dengan membagikan satu lagu.

Lagu sebagai Sarana Katarsis Emosi

Selain mencerminkan perasaan, musik juga berfungsi sebagai sarana pelepasan emosi atau katarsis. Mendengarkan lagu galau saat sedih justru dapat membuat seseorang merasa lebih lega.

Penelitian menunjukkan bahwa musik bisa membantu menurunkan stres, meningkatkan hormon dopamin, dan memperbaiki suasana hati. Karena itu, manfaat mendengarkan musik tidak hanya bersifat hiburan, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental.

Di dunia terapi, musik bahkan digunakan dalam music therapy untuk membantu pasien mengelola emosi, trauma, hingga gangguan kecemasan. Ini menunjukkan bahwa musik memiliki kekuatan terapeutik yang nyata.

Mengungkapkan Perasaan Tanpa Harus Bicara Langsung

Tidak semua orang nyaman mengungkapkan perasaan secara verbal. Faktor budaya, rasa malu, atau takut ditolak sering membuat seseorang memilih cara tidak langsung.

Di sinilah lagu menjadi medium aman untuk menyampaikan emosi. Membagikan lagu di Instagram Story, mengirimkan link lagu ke orang tertentu, atau membuat playlist khusus sering dijadikan bentuk komunikasi simbolik.

Bagi sebagian orang, cara mengungkapkan perasaan lewat lagu terasa lebih jujur dan tidak menghakimi. Lagu seolah berbicara mewakili perasaan yang sulit dirangkai menjadi kalimat.

Peran Media Sosial dalam Fenomena Lagu Relate

Di era digital, musik semakin terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari. Platform seperti Spotify, YouTube Music, TikTok, dan Instagram memudahkan orang membagikan lagu yang sedang mereka rasakan.

Tren playlist sesuai perasaan atau mood playlist juga semakin populer. Banyak pengguna membuat playlist dengan tema “galau”, “move on”, atau “jatuh cinta”. Ini menunjukkan bahwa musik menjadi bagian dari identitas emosional digital.

Algoritma platform streaming juga memperkuat kebiasaan ini dengan merekomendasikan lagu sesuai preferensi emosional pengguna. Akibatnya, orang semakin terpapar pada lagu-lagu yang relevan dengan perasaan mereka.

Lirik vs Melodi: Mana yang Lebih Menyentuh Emosi?

Pertanyaan klasik dalam musik adalah apakah lirik atau melodi yang lebih kuat dalam memicu emosi. Jawabannya, keduanya memainkan peran penting.

Lirik bekerja pada aspek kognitif, membantu pendengar memahami cerita dan makna lagu. Sementara itu, melodi bekerja pada aspek afektif, memicu reaksi emosional bahkan tanpa kata-kata.

Penelitian menunjukkan bahwa seseorang bisa merasa sedih atau terharu hanya dengan mendengar melodi, meskipun tidak memahami bahasa liriknya. Namun, kombinasi lirik dan melodi yang kuat membuat lagu terasa sangat personal dan relate.

Musik, Memori, dan Identitas Diri

Lagu sering kali terhubung dengan memori autobiografis. Satu lagu bisa mengingatkan pada mantan, masa sekolah, atau momen tertentu dalam hidup. Fenomena ini dikenal sebagai music-evoked autobiographical memory.

Banyak orang menyebut lagu tertentu sebagai “soundtrack hidup”. Musik membantu membentuk identitas diri dan cara seseorang memaknai pengalaman hidupnya. Karena itu, musik dan memori memiliki hubungan yang sangat erat.

Ketika seseorang memilih lagu yang relate, sebenarnya ia sedang menegaskan identitas emosionalnya kepada diri sendiri dan orang lain.

Mengapa Lagu Sedih Justru Banyak Dipilih Saat Sedih?

Secara logika, mendengarkan lagu sedih saat sedih terdengar kontraproduktif. Namun, banyak orang justru merasa lebih nyaman dengan lagu galau.

Fenomena ini disebut paradoxical pleasure, yaitu menikmati emosi negatif dalam konteks yang aman. Lagu sedih memberi validasi bahwa perasaan sedih adalah hal wajar.

Selain itu, lagu sedih sering memberikan rasa ditemani. Lirik yang menggambarkan kesedihan membuat pendengar merasa tidak sendirian. Inilah alasan lagu sedih populer di kalangan pendengar yang sedang patah hati atau mengalami masa sulit.

Perspektif Sosial: Musik sebagai Bahasa Generasi

Bagi generasi muda, musik bukan hanya hiburan, tetapi bahasa sosial. Lagu tertentu bisa menjadi simbol generasi, membentuk komunitas, dan memperkuat solidaritas emosional.

Tren TikTok, misalnya, membuat lagu-lagu tertentu menjadi anthem generasi Z. Musik digunakan untuk mengekspresikan identitas, opini, hingga kondisi mental.

Dalam konteks ini, budaya musik digital menciptakan ruang baru bagi generasi muda untuk mengekspresikan perasaan secara kolektif.

Lagu sebagai Cermin dan Bahasa Perasaan

Pada akhirnya, kecenderungan memilih lagu yang relate dengan perasaan adalah bagian dari kebutuhan dasar manusia untuk dipahami dan mengekspresikan emosi. Musik menawarkan bahasa yang jujur, universal, dan aman untuk menyampaikan apa yang sulit diucapkan.

Pada era digital lagu bahkan menjadi bahasa emosional baru, menggantikan kata-kata, pesan panjang, atau curhatan langsung. Baik melalui playlist, unggahan media sosial, atau pesan pribadi, musik tetap menjadi medium ekspresi yang paling personal.

Tak heran jika lagu sebagai ekspresi perasaan akan terus menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia, dari generasi ke generasi.

Komentar 0

Komentar (0)

Sampaikan pendapat Anda dengan santun.

G
Anda belum masuk, komentar akan tampil sebagai Guest. Masuk
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.