Psikologi & Kesehatan Mental

Dibanding Terus-Terusan: Efek Sosial Komparasi terhadap Citra Diri Mahasiswa

T Tarra Khansa Savina Terverifikasi Penulis
8 Juli 2025, 23:57 3 menit baca 776x dilihat
Dibanding Terus-Terusan: Efek Sosial Komparasi terhadap Citra Diri Mahasiswa
Winnicode Officials

Di tengah derasnya arus informasi dan keterbukaan kehidupan pribadi di media sosial, mahasiswa masa kini hidup dalam lingkungan yang sangat kompetitif bukan hanya di dunia nyata, tetapi juga di dunia digital. Unggahan pencapaian teman sebaya, gaya hidup, hingga rutinitas belajar yang terkesan “produktif” seringkali memicu perasaan tidak cukup baik dalam diri sendiri. Fenomena ini disebut sebagai sosial komparasi (social comparison), dan dampaknya terhadap citra diri mahasiswa semakin terasa signifikan di era digital.

Teori social comparison pertama kali diperkenalkan oleh Leon Festinger pada tahun 1954. Teori ini menyatakan bahwa manusia memiliki kecenderungan alami untuk membandingkan dirinya dengan orang lain sebagai cara mengevaluasi diri sendiri. Perbandingan ini bisa bersifat upward (membandingkan diri dengan orang yang dianggap lebih baik) maupun downward (membandingkan diri dengan orang yang dianggap berada di bawah kita).

Pada praktiknya, mahasiswa lebih sering terjebak dalam upward comparison, terutama saat mengakses media sosial. Misalnya, melihat teman sebaya yang sudah magang di perusahaan besar, memiliki IPK sempurna, atau aktif dalam berbagai kegiatan kampus bisa memunculkan rasa minder, kurang percaya diri, bahkan krisis eksistensial.

Di era digital, media sosial menjadi ladang subur bagi praktik sosial komparasi. Instagram, LinkedIn, TikTok, dan Twitter adalah platform di mana pencapaian, kebahagiaan, dan kesuksesan kerap dipamerkan. Namun, penting disadari bahwa apa yang terlihat di media sosial bukanlah representasi penuh dari kenyataan. Banyak pengguna hanya menampilkan highlight atau bagian terbaik dari hidup mereka.

Bagi mahasiswa yang sedang berjuang secara akademik, ekonomi, atau mental, eksposur terus-menerus terhadap unggahan semacam ini bisa menimbulkan tekanan psikologis yang tidak sedikit. Mereka merasa tertinggal, tidak cukup, bahkan tidak layak padahal setiap individu memiliki jalan dan waktu pencapaiannya masing-masing. Citra diri atau self-image adalah bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri baik secara fisik, intelektual, maupun sosial. Ketika mahasiswa terus-menerus merasa lebih buruk dibanding orang lain, hal ini dapat memicu krisis identitas, rasa tidak mampu, dan penurunan harga diri (self-esteem).

Studi psikologi menunjukkan bahwa paparan terus-menerus terhadap perbandingan sosial di media digital berkorelasi dengan meningkatnya angka kecemasan, depresi, dan gangguan citra diri, khususnya di kalangan remaja dan mahasiswa. Perasaan “selalu kurang” dapat membuat mahasiswa kehilangan motivasi, menarik diri dari lingkungan sosial, atau terjebak dalam overworking untuk mengejar standar semu yang dibentuk oleh dunia maya.

Social comparison sejatinya tidak sepenuhnya buruk. Dalam kadar yang sehat, perbandingan sosial dapat mendorong motivasi untuk berkembang dan memperbaiki diri. Namun, yang menjadi masalah adalah ketika perbandingan ini menjadi konstan dan tidak realistis. Maka dari itu, beberapa strategi penting yang bisa diterapkan mahasiswa untuk menjaga kesehatan citra dirinya antara lain:

  1. Batasi waktu dan jenis konsumsi media sosial, hindari akun-akun yang membuatmu merasa rendah diri, dan kurasi lingkungan digital yang lebih sehat dan suportif.
  2. Fokus pada progres, bukan pencapaian orang lain. bandingkan dirimu dengan versi dirimu yang lama, bukan orang lain.
  3. Bangun self-awareness dan self-compassion, terimalah bahwa kegagalan dan keterlambatan adalah bagian dari proses belajar.
  4. Kelilingi diri dengan komunitas suportif, teman-teman yang mengangkat, bukan menjatuhkan, akan membantu memperkuat citra diri positif.
  5. Jurnal pribadi atau afirmasi harian, teknik psikologi ini terbukti efektif dalam membentuk narasi diri yang lebih sehat.

Dalam masyarakat yang penuh ekspektasi dan kompetisi, membandingkan diri dengan orang lain seolah menjadi bagian tak terhindarkan dari kehidupan mahasiswa. Namun, penting untuk menyadari bahwa nilai diri seseorang tidak ditentukan oleh seberapa cepat ia mencapai sesuatu, atau seberapa sempurna hidupnya terlihat di media sosial. Citra diri yang sehat dibangun dari penerimaan diri, kesadaran akan proses, dan keberanian untuk tumbuh dengan ritme sendiri. Di dunia yang penuh perbandingan, menjadi otentik bisa jadi bentuk keberanian paling besar.

Komentar 0

Komentar (0)

Sampaikan pendapat Anda dengan santun.

G
Anda belum masuk, komentar akan tampil sebagai Guest. Masuk
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.