TRUMP PAKSA HARVARD TAK MENERIMA MAHASISWA INTERNASIONAL
Beberapa waktu lalu, dunia sempat dihebohkan dengan berita bahwa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melarang Universitas Harvard untuk menerima mahasiswa internasional. Larangan ini termasuk memaksa pulang mahasiswa asing yang sedang berkuliah di Harvard. Kebijakan ini sekilas terlihat nyeleneh bagi beberapa orang. Banyak yang menyatakan bahwa kebijakan ini justru langkah yang tidak bijak bagi pemerintah Amerika Serikat karena seolah menjegal keterbukaan Amerika Serikat terhadap dunia luar. Beberapa juga menyatakan bahwa ini bisa membuat Harvard tak dilirik sebagai kampus terkemuka di dunia dan dikalahkan oleh kampus lainnya di negara lain.
Ternyata larangan ini tak semata-mata diberikan oleh pemerintah Donald Trump tanpa alasan. Sebelumnya sempat terjadi komunikasi antara pemerintah dengan Harvard. Pemerintah bulan lalu meminta sejumlah data mahasiswa Harvard termasuk data mahasiswa internasional dan track record ketaatan hukum mereka. Pemerintah juga meminta sejumlah rekaman baik kekerasan, pelanggaran hukum, aksi ilegal, hingga aksi protes di dalam maupun di luar kampus yang dilakukan oleh mahasiswa internasional. Harvard menanggapi hal tersebut menolah sejumlah permintaan pemerintah.
Penolakan Harvard akhirnya berujung pada kemarahan pemerintah. Pemerintah akhirnya memutus dana hibah federal yang diberikan kepada Harvard sebesar $3 miliar USD hingga pencabutan Program Mahasiswa dan Pertukaran yang akhirnya mengakibatkan Harvard tak bisa lagi menerima mahasiswa internasional. Kewenangan Harvard untuk mensponsori visa F dan J untuk tahun akademik 2025-2026 juga dicabut oleh pemerintah. Tindakan ini sebagai sanksi yang diterima oleh Harvard karena dianggap mendukung kekerasan hingga tuduhan mendukung dan bekerja sama dengan Partai Komunis Tiongkok.
Ini bukan pertama kalinya bagi Trump untuk menuduh pihak terutama yang berhubungan dengan pendidikan. Sebelumnya Trump juga pernah mau menutup Departemen Pendidikan dalam pemerintahannya. Ia menganggap bahwa departemen tersebut tak berfungsi dengan benar yang dibuktikna dengan masih banyaknya angka buta huruf dan ketidakmamapuan matematis di tingkat sekolah dasar. Tetapi dibalik alasannya tersebut, Trump menuduh bahwa Departemen Pendidikan dipenuhi oleh orang-orang berideologi kiri bahkan menyebutkan bahwa mereka adalah Marxis, fanatik, hingga radikal.
Tindakan Trump ini menunjukkan ketakutan tak beralasan. Amerika Serikat yang seharusnya menjadi rumah yang aman bagi liberalisme malah dibabat habis oleh presidennya sendiri karena ketakutannya terhadap musuh-musuhnya. Dalam pandangan realisme, boleh memang bagi sebuah aktor hubungan internasional untuk melakukan defense jika terasa terancam oleh sejumlah pihak. Dalam pandangan realisme bahkan tindakan Trump tidak akan dipandang salah dan hanya dipandang sebagai bentuknya untuk bertahan. Tetapi, bukankah tindakan berbasis realisme seperti ini yang dulu ditentang oleh kaum liberal? Dan bukankah Amerika Serikat adalah pentolan dari liberalisme itu sendiri? Lalu di mana letaknya kebebasan yang menjadi ciri khas AS? Ataukah tanpa sadar Trump yang niatnya hendak bertahan malah justru merubah sedikit demi sedikit ideologi AS?