Lingkungan

"Limbah Dapur MBG Dituding Cemari Lahan Pertanian di Madiun, Petani Keluhkan Bau Menyengat"

M MOCH. DISTA NUR ALIF Terverifikasi Penulis
13 Desember 2025, 06:48 3 menit baca 620x dilihat
"Limbah Dapur MBG Dituding Cemari Lahan Pertanian di Madiun, Petani Keluhkan Bau Menyengat"
Winnicode Officials

Madiun – Para petani merasa khawatir karena bau menyengat yang berasal dari air yang mengalir menuju lahan pertanian di Dukuh Karanganyar, yang merupakan bagian dari Desa Sumberejo, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun (8/12/2025).

Bau menyengat yang berasal dari air yang mengalir menuju lahan pertanian, mengakibatkan kekhawatiran para petani. Air yang sebelumnya jernih kini berubah keruh, menyisakan endapan dan bau kuat yang diduga berasal dari limbah dapur pengolahan Menu Bergizi Gratis (MBG).

Putut Wagimitoyo, petani pemilik lahan, menjadi salah satu yang paling terdampak. Ia mengaku kondisi sawahnya berubah drastis sejak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah tersebut beroperasi dan menyuplai ribuan porsi makanan setiap hari.

“Dulu air dari kolam ikan warga masuk ke sawah tidak masalah. Tapi sekarang limbahnya beda, baunya tajam. Kalau dibiarkan, tanah bisa rusak dan tidak bisa diolah lagi,” ujar Putut.

Ia menyebut limbah itu berasal dari sisa cucian peralatan masak, mengandung sabun, minyak, dan bahan lain yang meninggalkan endapan tebal di lahan. Bukan hanya mengganggu kualitas tanah, Putut menyebut beberapa petani merasakan gatal-gatal saat bekerja di sawah. Ironisnya, ia mengaku tidak pernah mendapatkan pemberitahuan ataupun klarifikasi dari pengelola SPPG maupun pemerintah desa mengenai aliran limbah tersebut.

Menurutnya, limbah tidak diarahkan ke saluran irigasi resmi, melainkan dibuang melalui tanah resapan dan akhirnya merembes ke lahan pertanian warga. “Tidak ada penjelasan apa pun dari pengelola. Tahu-tahu airnya berubah dan masuk ke sawah,” tegasnya.

Slamet, owner SPPG, memberikan jawaban berbeda. Ia mengatakan limbah dapur tidak dibuang langsung ke sawah seperti yang dikeluhkan warga. Menurutnya, pembuangan dilakukan melalui sistem resapan dan sebagian dialirkan ke parit di sisi barat tempat produksi.

“Limbah itu masuk ke resapan. Kalau sampai ke sawah, mungkin ada faktor lain. Parit barat memang ada, tapi yang di luar itu saya kurang tahu,” kata Slamet. Namun, ketika dimintai kepastian apakah paralon pembuangan mengarah ke lahan warga, ia tidak memberikan jawaban tegas. “Saya tidak berani memastikan. Yang saya tahu, itu ke parit.

Meski begitu, ia mengaku bersedia mengikuti arahan jika memang ada saluran yang perlu ditata ulang. “Kalau harus diarahkan ke saluran lain atau diperbaiki, saya siap menyesuaikan sesuai aturan.

Oleh karena itu, konflik antara operasional SPPG yang memproduksi ribuan porsi Menu Bergizi Gratis (MBG) dengan dampak lingkungan yang dirasakan petani di Dukuh Karanganyar memerlukan intervensi segera dari Pemerintah Desa dan Dinas Lingkungan Hidup. Meskipun pemilik SPPG bersedia menata ulang saluran, penting untuk memastikan bahwa sistem pengelolaan limbah yang diterapkan tidak hanya menggunakan resapan, tetapi benar-benar sesuai standar baku mutu dan memiliki saluran pembuangan akhir yang tidak merusak lahan pertanian warga.

Komentar 0

Komentar (0)

Sampaikan pendapat Anda dengan santun.

G
Anda belum masuk, komentar akan tampil sebagai Guest. Masuk
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.