Kuliner

Dari Klepon hingga Cireng, Jajanan Lokal Kembali Jadi Primadona di Era Digital

N Nandyta Alifia Denila Didha Putri Hartono Terverifikasi Penulis
15 Februari 2026, 16:25 4 menit baca 694x dilihat
Dari Klepon hingga Cireng, Jajanan Lokal Kembali Jadi Primadona di Era Digital
Winnicode Officials

Antrean pembeli di lapak jajanan pasar kembali terlihat ramai. Di sejumlah kota, kue-kue tradisional seperti klepon, serabi, hingga putu kembali menghiasi etalase pasar, bazar kuliner, bahkan kafe modern. Tak hanya kue basah, gorengan seperti risol, tahu isi, dan cireng juga kembali naik daun, terutama setelah viral di media sosial.

Fenomena ini menunjukkan kebangkitan jajanan tradisional Indonesia yang sempat tersisih oleh tren makanan global. Nostalgia rasa, konten digital, serta inovasi pelaku UMKM menjadi faktor utama yang menghidupkan kembali kuliner lokal di tengah generasi muda.

Nostalgia Rasa dan Budaya Digital

Kebangkitan jajanan jadul tidak terjadi secara kebetulan. Makanan tradisional memiliki kekuatan emosional yang kuat. Jajanan pasar bukan sekadar makanan, tetapi bagian dari memori kolektif. Klepon atau putu sering dikaitkan dengan masa kecil, keluarga, dan suasana kampung.

Media sosial memperkuat efek nostalgia tersebut. Visual jajanan yang berwarna cerah dan tekstur unik membuatnya mudah viral di TikTok dan Instagram. Video pembuatan cireng yang kenyal, serabi yang dipanggang di cetakan tanah liat, atau pleret yang dibungkus janur sering ditonton jutaan kali, memicu rasa penasaran konsumen muda.

Ikon Jajanan Pasar yang Kembali Dilirik

Di antara berbagai jajanan, klepon tetap menjadi ikon. Bola-bola tepung ketan berwarna hijau pandan ini berisi gula merah cair dan dibalut kelapa parut. Sensasi gula merah yang meleleh saat digigit menjadikannya simbol nostalgia kuliner Nusantara.

Serabi, kue dadar tebal berbahan tepung beras dan santan, juga mengalami transformasi signifikan. Jika dulu hanya disajikan dengan kuah kinca gula merah, kini serabi hadir dengan topping cokelat, keju, hingga tiramisu. Perpaduan rasa tradisional dan modern membuat serabi diterima oleh generasi urban.

Kue putu, yang dimasak dalam tabung bambu, kembali dicari karena aroma pandan dan suara khas kukusan yang menjadi memori kolektif masyarakat. Putu sering muncul dalam narasi “kuliner malam” di kota-kota kecil dan besar.

Sementara itu, cenil, ongol-ongol, dan getuk menawarkan tekstur kenyal dan visual warna-warni. Cenil dan ongol-ongol berbasis tepung tapioka dan gula merah, sedangkan getuk berbahan singkong tumbuk. Ketiganya mencerminkan tradisi pangan lokal berbasis umbi-umbian yang sejak lama menjadi bagian dari diet masyarakat Indonesia.

Perhatian publik juga tertuju pada pleret atau clorot, jajanan khas Jawa berbahan tepung beras, santan, dan gula merah yang dibungkus janur berbentuk kerucut. Selain unik secara visual, pleret memiliki nilai simbolik karena sering hadir dalam ritual adat dan perayaan tradisional.

Gorengan Lokal Tak Kalah Pamor

Tak hanya kue basah, jajanan gorengan juga mengalami kebangkitan. Risol, gorengan berkulit tipis berisi ragout sayuran dan ayam, kini hadir dalam versi modern seperti risol mayo, smoked beef, dan mozzarella. Adaptasi ini menjembatani selera tradisional dengan selera global.

Tahu isi tetap menjadi favorit lintas generasi. Tahu goreng berisi sayuran atau ayam suwir ini mudah ditemukan di pasar hingga kantin sekolah. Harga yang terjangkau membuat tahu isi bertahan di tengah persaingan fast food.

Cireng (aci goreng) khas Sunda kembali viral melalui inovasi saus modern dan isian bermacam-macam seperti bumbu rujak, sambal mentai, isian keju leleh, ayam suwir dan sebagainya. Cireng kini tidak hanya dijual di gerobak kaki lima, tetapi juga di kafe street food dan franchise kuliner.

UMKM dan Rebranding Jajanan Tradisional

Pelaku UMKM memegang peran penting dalam kebangkitan jajanan pasar. Banyak pedagang melakukan rebranding dengan kemasan premium, label merek, dan pemasaran digital. Jajanan yang dulu dijual dalam plastik kini hadir dalam boks estetik yang siap masuk pasar e-commerce. Inovasi kemasan dan rasa membuat jajanan tradisional punya nilai tambah.

Kolaborasi antara UMKM dan kafe modern juga semakin marak. Menu seperti klepon latte, dessert serabi, hingga platter cireng menunjukkan bagaimana jajanan tradisional diintegrasikan ke konsep kuliner kekinian.

Dampak Ekonomi dan Identitas Budaya

Sektor kuliner masih menjadi penyumbang terbesar ekonomi kreatif nasional. Kebangkitan jajanan tradisional membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha kecil, terutama di daerah.

Di sisi lain, jajanan pasar juga berfungsi sebagai medium pelestarian budaya. Setiap jajanan merepresentasikan sejarah lokal, bahan pangan khas daerah, serta praktik sosial masyarakat. Ketika generasi muda kembali mengonsumsi getuk atau pleret, itu berarti mereka juga terhubung dengan identitas lokal.

Tren ini juga mendorong wisata kuliner lokal, di mana daerah mempromosikan jajanan khas sebagai daya tarik wisata.

Tantangan: Antara Inovasi dan Otentisitas

Meski menjanjikan, tren ini tidak tanpa tantangan. Modernisasi berlebihan berisiko menghilangkan resep autentik dan nilai tradisi. Selain itu, jajanan tradisional harus bersaing dengan makanan global yang agresif dalam pemasaran.

Standardisasi kualitas dan higienitas juga menjadi isu krusial. Banyak jajanan pasar masih diproduksi secara rumahan tanpa sertifikasi keamanan pangan, sehingga diperlukan pendampingan bagi pelaku UMKM.

Keberlanjutan tren ini bergantung pada keseimbangan inovasi dan pelestarian. Jajanan tradisional harus adaptif, tetapi tidak kehilangan cerita, keotentikan rasa, dan nilai identitasnya.

Lebih dari Sekadar Tren Kuliner

Kebangkitan jajanan tradisional kembali populer menunjukkan bahwa kuliner tidak hanya soal rasa, tetapi juga identitas, memori, dan ekonomi. Dari klepon hingga cireng, dari pleret hingga risol, jajanan pasar kini menemukan ruang baru di era digital.

Jika dikelola secara berkelanjutan, jajanan tradisional berpotensi menjadi ikon kuliner nasional sekaligus pilar ekonomi kreatif Indonesia di tengah arus globalisasi.

Komentar 0

Komentar (0)

Sampaikan pendapat Anda dengan santun.

G
Anda belum masuk, komentar akan tampil sebagai Guest. Masuk
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.