Hustle Culture
Di umur yang sudah menginjak dewasa, banyak dari kita yang buka hanya bekerja keras, tapi bekerja super keras untuk berbagai hal. Mulai dari kerja lembur tanpa henti, menjalankan side hustle, sampai merasa bersalah kalau "cuma" istirahat. Fenomena ini dikenal dengan sebutan hustle culture. Tapi, apa sebenarnya yang membuat budaya ini begitu lekat di kehidupan kita?
Hustle culture adalah pola pikir atau budaya kerja yang mengagungkan produktivitas berlebihan dimana semakin sibuk dan capek kamu terlihat, maka semakin dianggap sukses dan berdedikasi. Istilah ini seringkali dikaitkan dengan gaya hidup “grind 24/7”, “kerja dulu, tidur belakangan”, atau “kalau nggak capek, berarti belum maksimal”. Semakin produktif kita dalam berbagai hal maka dinilai akan semakin baik karena tidak membuang waktu sia-sia hanya untuk istirahat ataupun melakukan hal lain diluar dari pekerjaan.
Budaya Hustle ini sebenarnya bukan suatu kebiasaan baru. Akar hustle culture bisa ditelusuri ke era industri dan kapitalisme modern, di mana kerja keras dianggap satu-satunya jalan menuju keberhasilan. Namun, lonjakan popularitasnya di era digital mulai terasa sejak awal 2010-an, seiring berkembangnya startup, media sosial, dan tokoh-tokoh yang mempopulerkan gaya hidup “work hard, play never”. Platform seperti Instagram, TikTok, dan LinkedIn punya andil besar dalam memperkuat narasi ini. Kita sering disuguhi konten motivasi yang menyamakan kerja keras ekstrem dengan pencapaian luar biasa. Dari situ muncul tekanan sosial seperti, “kalau mereka bisa kerja 14 jam sehari dan tetap semangat, masa kita nggak?”
Meski Hustle Culture ini bisa terjadi di semua kalangan, hustle culture paling terasa di kalangan anak muda usia 20–35 tahun, terutama mereka yang bekerja di kota besar, sektor kreatif, teknologi, startup, dan freelance. Mereka ini biasanya dikelilingi oleh tuntutan karier, ekspektasi sosial, serta dorongan untuk “membuktikan diri”. Orang - orang disekitar pun melakukan hal yang sama, maka dari itu lambat laun kita akan terpengaruh dan akan terpacu untuk melakukan hal yang sama. Generasi milenial dan Gen Z, meski terkenal dengan semangat akan work-life balance, justru jadi kelompok yang paling rentan terjebak hustle culture karena pengaruh media sosial dan kebutuhan finansial di tengah tingginya biaya hidup, ditambah lagi dengan istilah FOMO dan takut ketinggalan dengan hal-hal yang dimiliki/dilakukan oleh orang lain.
Ada beberapa alasan kenapa hustle culture bisa terjadi, yang pertama adalah menormalisasi kerja berlebihan, jam kerja panjang dianggap wajar, bahkan dibanggakan padahal hal tersebut bukan jam kerja yang sehat/ideal. Kedua, adalah tekanan sosial dan perbandingan, melihat orang lain terlihat produktif membuat kita merasa “kurang” dan terus terpacu untuk bisa melakukan hal yang sama. Ketiga adalah kurangnya keamanan finansial, banyak orang kerja keras bukan karena ambisi semata, tapi kebutuhan apalagi melihat pada kondisi ekonomi sekarang yang semua terasa mahal, terjadi lonjakan inflasi dan satu pekerjaan tidak bisa mengcover semua kebutuhan. Keempat adalah budaya kerja, setiap perusahaan memiliki budaya kerjanya masing-masing, banyak perusahaan yang tidak menerapkan work life balance dan sering mengadakan lembur bagi para karyawannya. Terakhir adalah internalisasi kesuksesan yaitu kerja keras nonstop selalu akan berbuah manis, tetapi kita tidak sadar bahwa melakukannya berlebihan juga tidak akan baik.
Hustle culture pasti menimbulkan konsekuensi. Di satu sisi, ini bisa meningkatkan produktivitas, motivasi, dan pencapaian. Tapi di sisi lain, efek jangka panjangnya bisa serius seperti burnout alias kelelahan fisik dan mental, lalu gangguan kesehatan mental, seperti stres, kecemasan, dan depresi, lalu tidak pernah merasa cukup dan kehidupan pribadi akan terganggu karena tidak punya waktu untuk kegiatan lain.
Hustle culture tidak selalu buruk jika masih dalam dosis yang sehat, semangat kerja keras itu bagus. Tapi yang perlu diwaspadai adalah ketika kerja jadi satu-satunya identitas diri. Produktivitas penting, tapi begitu juga istirahat, kesehatan, dan kehidupan sosial. Kuncinya adalah kesadaran dan keseimbangan.