Hiburan

Ketika Kartun Tak Lagi Hadir di Layar Kaca: Jejak Tayangan Animasi Legendaris Zaman Dulu

J Junita Nur Anggraeni Terverifikasi Penulis
6 Januari 2026, 23:31 2 menit baca 705x dilihat
Ketika Kartun Tak Lagi Hadir di Layar Kaca: Jejak Tayangan Animasi Legendaris Zaman Dulu
Winnicode Officials

Berhentinya tayangan Doraemon di salah satu stasiun televisi nasional bukan sekadar perubahan jadwal siaran. Peristiwa ini memicu nostalgia kolektif dan membuka kembali ingatan publik tentang era keemasan kartun televisi yang pernah mewarnai masa kecil banyak generasi di Indonesia. Pada masanya, kartun bukan hanya hiburan, tetapi juga bagian dari rutinitas harian dan momen kebersamaan keluarga.

Selain Doraemon, ada banyak kartun legendaris yang pernah berjaya di layar kaca Indonesia. Crayon Shinchan, misalnya, menjadi ikon kartun dengan gaya humor khas yang berani dan berbeda. Meski sering menuai pro dan kontra, kartun ini tetap digemari karena mampu menampilkan sudut pandang anak-anak secara jujur dan apa adanya. Shinchan menjadi salah satu tontonan yang melekat kuat di ingatan generasi 1990-an dan awal 2000-an.

Kartun lain yang tak kalah populer adalah Dragon Ball. Serial ini bukan hanya menghadirkan aksi dan petualangan, tetapi juga mengajarkan nilai persahabatan, ketekunan, dan pengorbanan. Banyak anak pada zamannya menantikan jam tayang Dragon Ball sepulang sekolah, bahkan meniru gaya rambut dan jurus para karakternya. Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh kartun terhadap budaya populer.

Tak hanya kartun Jepang, kartun Barat seperti SpongeBob SquarePants dan Tom and Jerry juga memiliki tempat istimewa di hati penonton. SpongeBob dikenal dengan humor absurd yang bisa dinikmati lintas usia, sementara Tom and Jerry membuktikan bahwa cerita tanpa dialog panjang pun mampu menghibur dan bertahan lintas generasi. Kartun-kartun ini menjadi pengisi waktu pagi atau akhir pekan yang selalu dinanti.

Namun seiring waktu, satu per satu kartun tersebut mulai menghilang dari televisi konvensional. Perubahan pola konsumsi media, pergeseran ke platform digital, serta strategi penyiaran menjadi faktor utama. Anak-anak kini lebih akrab dengan gawai dan layanan streaming, sementara televisi tidak lagi menjadi satu-satunya sumber hiburan.

Meski demikian, hilangnya kartun-kartun lama dari layar kaca tidak berarti pengaruhnya ikut pudar. Kartun-kartun tersebut tetap hidup dalam ingatan kolektif, meme media sosial, hingga tayangan ulang di platform digital. Fenomena ini menunjukkan bahwa kartun bukan sekadar tontonan anak-anak, melainkan bagian dari sejarah budaya populer yang membentuk kenangan dan identitas generasi tertentu.

Berakhirnya satu era kartun di televisi menjadi pengingat bahwa zaman terus berubah. Namun, cerita, karakter, dan nilai yang pernah disampaikan kartun-kartun klasik akan selalu memiliki tempat tersendiri di hati penontonnya.

Komentar 0

Komentar (0)

Sampaikan pendapat Anda dengan santun.

G
Anda belum masuk, komentar akan tampil sebagai Guest. Masuk
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.