BEKANTAN MASKOT PEMERSATU IDENTITAS BUDAYA KALIMANTAN SELATAN
Bekantan, primata endemik berhidung panjang khas Kalimantan, telah ditetapkan sebagai maskot resmi Provinsi Kalimantan Selatan. Penetapannya bukan sekadar pemilihan simbol belaka, melainkan sebuah pengakuan mendalam bahwa satwa unik ini mewakili karakter esensial tanah Banjar. Seperti masyarakat Kalimantan Selatan yang hidup harmonis di antara sungai besar dan lahan basah, bekantan juga menunjukkan kemampuan adaptasi luar biasa di dua alam, darat dan air. Wujud fisiknya yang khas serta perilaku sosialnya yang kuat dalam kelompok menjadi cermin identitas visual yang mudah dikenali dan dibanggakan, menyatukan beragam suku dan komunitas di bawah satu ikon kebanggaan bersama.
Sebagai maskot pemersatu, bekantan berperan sebagai perekat budaya yang melintasi batas geografis dan sosial. Dalam berbagai acara kebudayaan, promosi pariwisata, hingga materi edukasi daerah, visual bekantan selalu hadir sebagai penanda utama. Ia menghiasi logo institusi pemerintah, menjadi inspirasi nama kesenian tradisional, hingga motif dalam kerajinan khas Banjar. Kehadirannya dalam narasi budaya tidak hanya mengingatkan akan kekayaan alam Kalimantan Selatan, tetapi juga menjadi pengingat kolektif akan tanggung jawab menjaga warisan alam yang menjadi sumber kehidupan. Dengan demikian, bekantan menjelma dari sekadar satwa menjadi simbol hidup yang memperkuat identitas kultural masyarakat.
Status bekantan sebagai maskot budaya pada hakikatnya adalah komitmen berkelanjutan. Ia merupakan ikon yang mengajak seluruh lapisan masyarakat, dari pemerintah hingga komunitas akar rumput, untuk bersatu padu tidak hanya dalam kebanggaan simbolik tetapi juga dalam aksi nyata pelestarian. Menjaga populasi bekantan berarti menjaga ekosistem rawa gambut dan sungai yang menjadi nafas kehidupan dan budaya Kalimantan Selatan. Dengan menjadikannya pemersatu identitas, diharapkan kesadaran kolektif untuk melindungi alam tempat bekantan hidup akan mengalir deras dalam setiap kebijakan, karya seni, dan praktik keseharian, sehingga identitas budaya Kalimantan Selatan tetap lestari bersama sang maskot yang anggun di habitat aslinya.