Harga Pangan Mayoritas Turun di Awal Tahun, Pemerintah: Ini Momentum Untuk Stabilitas
JAKARTA — Memasuki awal tahun 2026, harga pangan pokok di pasar domestik Indonesia menunjukkan tren penurunan secara umum. Pergerakan harga ini menjadi momentum penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk menjaga stabilitas inflasi serta daya beli rumah tangga. Data terbaru dari Kementerian Perdagangan (Kemendag) menunjukkan bahwa sejumlah komoditas pangan, mulai dari beras hingga bahan sayuran dan daging, mengalami penurunan harga di pasar tradisional dan modern.
Salah satu komoditas yang mengalami penurunan signifikan adalah beras kualitas medium, yang pada awal Januari 2026 turun menjadi sekitar Rp11.200–Rp12.000 per kilogram dari posisi akhir Desember 2025 yang berada di kisaran Rp12.500 per kilogram. Penurunan ini dipengaruhi oleh ketersediaan stok yang memadai setelah panen raya di sejumlah daerah penghasil padi seperti Jawa dan Sulawesi. Penurunan harga beras menjadi kabar baik bagi konsumen, mengingat komoditas ini merupakan makanan pokok yang dikonsumsi oleh hampir seluruh rumah tangga di Indonesia.
Selain beras, telur ayam ras juga mencatatkan harga yang lebih rendah ketimbang pekan terakhir tahun 2025. Harga telur yang semula menyentuh angka Rp30.000 per kilogram kini turun menjadi sekitar Rp26.000–Rp28.000 per kilogram. Kemendag menyebut bahwa produksi telur yang stabil dan distribusi yang lebih lancar menjadi faktor utama penurunan harga. Peserta pasar tradisional pun melaporkan bahwa stok telur dan ayam potong cukup tersedia, sehingga tekanan terhadap harga dapat mereda.
Komoditas sayuran seperti wortel, kubis, dan buncis turut mengalami tren penurunan harga di pasar lokal. Misalnya, wortel yang sebelumnya dijual sekitar Rp15.000 per kilogram kini berada di rentang Rp12.000–Rp13.000 per kilogram. Petani di dataran tinggi Jawa Timur dan Jawa Tengah mengindikasikan bahwa cuaca musim hujan yang bersahabat membuat hasil panen lebih baik, sehingga pasokan ke pasar meningkat dan harga ikut turun.
Namun, tidak seluruh komoditas mengalami penurunan. Bawang merah tercatat masih bertahan pada harga yang relatif tinggi, yakni sekitar Rp32.000–Rp35.000 per kilogram, meskipun ada sedikit tren penurunan dibandingkan pekan sebelumnya. Pemerintah menyatakan bahwa harga bawang merah masih dipengaruhi oleh pasokan yang belum sepenuhnya pulih dari dampak cuaca ekstrem pada akhir tahun lalu.
Para ekonom melihat bahwa tren ini juga bisa menjadi sinyal positif dalam menangani tekanan biaya hidup masyarakat pada awal 2026. Namun, mereka mengingatkan bahwa tantangan terhadap harga komoditas musiman, volatilitas global, dan biaya logistik tetap perlu diantisipasi. “Penurunan harga lokal tidak serta merta menjamin stabilitas jangka panjang jika faktor eksternal seperti harga minyak dunia atau kebijakan perdagangan internasional berubah secara drastis,” kata ekonom dari Universitas Indonesia, Dr. Sandra Paramitha.
Dengan tren penurunan harga pangan yang mayoritas terjadi di awal tahun, masyarakat diharapkan dapat merasakan dampak positifnya dalam pengeluaran rumah tangga. Sementara itu, pemerintah terus memantau pergerakan harga secara berkala untuk merespons lebih cepat jika terjadi gejolak yang tidak terduga di pasar domestik.