Ekonomi

Gen Z Mengubah Peta Ekonomi Nasional Lewat E-Commerce

M Muhammad Zaki Adha Terverifikasi Penulis
13 November 2025, 01:29 3 menit baca 740x dilihat
Gen Z Mengubah Peta Ekonomi Nasional Lewat E-Commerce
Winnicode Officials

Belanja online kini bukan sekadar tren, melainkan sudah menjadi bagian dari gaya hidup Gen Z di Indonesia. Pasca pandemi COVID-19, kebiasaan belanja masyarakat mengalami perubahan besar. Data Bank Indonesia mencatat nilai transaksi e-commerce mencapai Rp44,4 triliun per Juli 2025, tumbuh 6,41% dibanding tahun sebelumnya. Dari total 73,06 juta pengguna aktif, sekitar 60 persen adalah anak muda berusia 15–30 tahun.

 

Platform seperti Shopee, Tokopedia, TikTok Shop, dan Lazada tidak hanya menyediakan fitur jual-beli, tetapi juga menghadirkan pengalaman interaktif melalui live shopping. Survei Populix menunjukkan 62 persen Gen Z aktif bertransaksi melalui fitur ini. Bagi mereka, belanja online bukan hanya soal membeli barang, tetapi juga bagian dari hiburan, socializing, dan identitas digital.

 

Algoritma media sosial memperkuat pola ini. TikTok dan Instagram secara otomatis merekomendasikan produk sesuai minat pengguna. Di satu sisi, ini memudahkan, namun di sisi lain, menciptakan “bubble” yang mendorong budaya konsumtif tanpa disadari. Pada masa ini runag publik khusus nya internet dapat menjadi tempat diskusi, ulasan, dan pembentukan opini, tetapi juga menjadi ruang yang rentan dikendalikan oleh iklan dan logika komersial.

 

Di wilayah urban seperti Jakarta atau kota-kota besar lain nya, Gen Z dengan akses internet stabil lebih cepat menerima budaya belanja digital. Sementara di wilayah non-urban atau daerah, e-commerce justru menjadi solusi untuk keterbatasan akses barang. Budaya lokal ikut berperan komunitas desa menerapkan sistem patungan ongkir atau belanja bersama, sedangkan UMKM memanfaatkan media sosial untuk menjangkau pasar nasional.

 

Dari sisi ekonomi, e-commerce membawa banyak keuntungan. UMKM mendapatkan akses pasar lebih luas tanpa perlu toko fisik, lapangan kerja baru muncul di sektor logistik dan digital marketing, dan konsumsi rumah tangga meningkat sehingga mendorong pertumbuhan PDB. Gen Z juga banyak terlibat sebagai reseller, dropshipper, hingga content creator.

 

Namun, dampak negatifnya tidak bisa diabaikan. Budaya belanja impulsif memicu utang paylater, perilaku konsumtif, dan penggunaan layanan pinjaman digital tanpa perencanaan. Sistem COD sering disalahpahami, banyak konsumen menolak barang di depan kurir hanya karena tidak sesuai ekspektasi. Kasus penipuan online, pencurian data, hingga regulasi perlindungan konsumen yang belum kuat menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak sejalan dengan literasi digital.

 

Pada akhirnya, belanja online mencerminkan bagaimana komunikasi digital memengaruhi dinamika sosial. Gen Z membangun identitas, eksistensi, dan relasi sosial melalui belanja, review produk, hingga tren media sosial. Ruang digital menjadi ruang publik baru dimana tempat berdagang, berdiskusi, sekaligus membentuk budaya. Tantangannya sekarang adalah memastikan ruang ini tidak sekadar menjadi arena konsumsi, tetapi juga ruang yang sehat, kritis, dan inklusif bagi semua.

Komentar 0

Komentar (0)

Sampaikan pendapat Anda dengan santun.

G
Anda belum masuk, komentar akan tampil sebagai Guest. Masuk
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.