Berita

Kematian Mahasiswa Timothy Anugerah Saputra: Tragedi, Dugaan Perundungan, dan Seruan Perubahan

N Nofita Nur Safitri Terverifikasi Penulis
22 Oktober 2025, 03:34 2 menit baca 1,264x dilihat
Kematian Mahasiswa Timothy Anugerah Saputra: Tragedi, Dugaan Perundungan, dan Seruan Perubahan
Winnicode Officials

Mahasiswa Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Udayana (Unud), Timothy Anugerah Saputra (22), ditemukan meninggal dunia pada Rabu, 15 Oktober 2025, setelah terjatuh dari gedung kampus. Kasus ini pun memicu perhatian luas karena muncul dugaan perundungan (bullying) yang membayang di balik peristiwa tersebut.

Menurut keterangan kepolisian, korban diduga lompat dari lantai empat gedung FISIP Unud. Beberapa saksi menyebut bahwa sebelum kejadian, Timothy tampak panik, menggendong tas ransel, dan berada di teras lantai empat menunggu dosen. Korban kemudian dilarikan ke RSUP Prof. Dr. I G N G Ngoerah, Denpasar, namun dinyatakan meninggal dunia saat tiba di Instalasi Gawat Darurat. 

Setelah kabar duka menyebar, muncul tangkapan layar percakapan di media sosial yang dikaitkan dengan teman-teman kampus korban, berisi komentar yang dinilai mengejek dan tidak berempati terhadap kematian Timothy. Menurut pihak Unud, percakapan tersebut terjadi setelah kematian dan bukan penyebab langsung tindakan korban. Namun, kampus menegaskan akan menindak tegas bentuk ujaran kebencian digital dan perundungan, termasuk melalui tugas khusus serta sanksi administratif. Pendamping keluarga korban melaporkan kasus ini ke Polresta Denpasar untuk mengusut secara tuntas kronologi kejadian dan memastikan penyebab pastinya.

Kematian Timothy memancing keprihatinan dari berbagai pihak. Kasus ini kembali menyoroti pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental mahasiswa, serta tanggung jawab kampus untuk menciptakan suasana yang aman dan suportif. Para ahli menyebut bahwa perundungan, baik secara fisik maupun digital, dapat menjadi faktor pemicu tekanan psikologis yang berat.

Pihak kampus bersama lembaga kemahasiswaan juga digesa untuk memperkuat literasi digital—bahwa komentar dan unggahan di media sosial punya konsekuensi nyata—serta memperketat mekanisme pendampingan mahasiswa yang mengalami kesulitan emosional.

Kehilangan seorang mahasiswa muda seperti Timothy adalah duka yang mendalam bagi keluarga, teman, dan institusi pendidikan. Di tengah tangis dan tanya “mengapa?”, ada pelajaran penting: bahwa kampus bukan hanya tempat mengejar akademik, melainkan ruang hidup yang membutuhkan empati, kesadaran digital, dan keberanian untuk mendukung satu sama lain. Semoga tragedi ini menjadi momentum untuk perubahan budaya kampus menuju lingkungan yang lebih peduli, inklusif, dan mendukung setiap mahasiswa agar tidak merasa sendirian dalam perjuangannya.

 

Komentar 0

Komentar (0)

Sampaikan pendapat Anda dengan santun.

G
Anda belum masuk, komentar akan tampil sebagai Guest. Masuk
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.