"Tiga Pekan Pascabanjir Aceh Tamiang: Pengungsi Bertahan Hidup dengan Mi Mentah dan Air Kubangan"
Aceh Tamiang – Memasuki pekan ketiga pascabanjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh (19/12/2025). Sejumlah warga terdampak masih bertahan hidup di tenda-tenda darurat yang didirikan di pinggir jalan. Kondisi tersebut membuat para pengungsi berharap pemerintah segera membangun hunian sementara agar mereka dapat hidup lebih layak.
Salah satu lokasi pengungsian berada di Desa Kampung Dalam, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang. Di tempat itu, warga mendirikan tenda darurat secara swadaya setelah rumah mereka hanyut diterjang banjir bandang.
Ramadan, salah seorang pengungsi, mengungkapkan hingga kini ia dan keluarganya belum memiliki tempat tinggal yang layak. Selama tiga pekan terakhir, mereka harus bertahan di tenda dengan kondisi serba terbatas.
“Kalau malam hujan, kami kehujanan. Tempat tinggal kami sudah hanyut. Siang panas, malam kehujanan. Yang paling saya perlukan hunian yang layak,” ujar Ramadan.
Ia juga mengaku memiliki keterbatasan fisik sehingga semakin membutuhkan bantuan pemerintah. “Saya sebagai masyarakat Indonesia meminta bantuan hunian yang layak karena sakit, tidak bisa berjalan,” tambahnya.
Selain persoalan tempat tinggal, Ramadan juga mengeluhkan distribusi bantuan logistik yang belum merata. Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, ia mengandalkan bantuan relawan dan donatur yang melintas di sekitar lokasi pengungsian.
“Kalau ada relawan kasih makan, kami makan. Kalau tidak ada, kami makan mi mentah untuk bertahan hidup. Air bersih pun kadang tidak ada, terpaksa pakai air kubangan,” tuturnya sambil menyeka air mata.
Menurut Ramadan, hunian sementara menjadi kebutuhan paling mendesak agar para pengungsi bisa mulai menata kembali kehidupan pascabencana. “Ini sudah titik terendah kami. Sudah hampir tiga minggu tidak punya rumah, tidak tahu mau ke mana lagi,” ucapnya.
Keluhan serupa disampaikan pengungsi lainnya, Nora. Ia mengatakan kondisi tenda darurat yang ditempatinya sangat tidak aman, terutama saat hujan deras. Bahkan, ia harus sering berpindah tempat untuk menghindari genangan air.
“Tempat tinggal kami tidak layak. Harapan saya kepada pemerintah agar secepatnya diberikan hunian yang layak karena warga di sini juga banyak,” kata Nora.
Oleh karena itu, penanganan pascabencana di Kabupaten Aceh Tamiang harus segera ditingkatkan dari sekadar bantuan darurat menjadi langkah pemulihan jangka menengah, terutama melalui pembangunan hunian sementara (Huntara) dan perbaikan jalur logistik. Pemerintah daerah maupun pusat tidak boleh menutup mata terhadap fakta bahwa warga masih mengonsumsi air tidak layak dan mi mentah, sehingga diperlukan koordinasi yang lebih solid agar hak dasar masyarakat terdampak bencana dapat terpenuhi secara manusiawi.