Aceh Terendam Banjir dan Longsor Hingga Menyapu Rumah, Ribuan Warga Mengungsi
BANDA ACEH — Sebagian besar wilayah Aceh kini berstatus tanggap darurat setelah gelombang banjir dan longsor melanda provinsi itu dalam beberapa hari terakhir. Gubernur provinsi, Muzakir Manaf, menetapkan tanggap darurat bencana hidrometeorologi yang berlaku mulai 28 November hingga 11 Desember 2025. Menurut data resmi, dampak bencana sangat masif: sekitar 50 persen desa di Aceh terdampak — total lebih dari 1,5 juta jiwa dari lebih 326.800 kepala keluarga berada dalam zona terdampak. Korban manusia terus bertambah: hingga 5 Desember 2025, tercatat 326 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya masih hilang.
Banjir dan longsor telah menyebabkan terendamnya puluhan ribu rumah. Sebagai contoh, di kabupaten Aceh Utara tercatat 163.985 jiwa terdampak, dan 115.018 jiwa mengungsi. Banyak fasilitas vital rusak — rumah, jembatan, tanggul, jalan, irigasi, serta fasilitas pendidikan di sekolah-sekolah ikut terkena dampaknya. Tidak hanya rumah dan fasilitas umum, aktivitas pendidikan pun terganggu. Sejumlah perguruan tinggi swasta (PTS) melaporkan kampus mereka rusak atau terisolir, sehingga banyak kampus tidak bisa menjalankan kegiatan akademik normal. Banyak jalan nasional dan jalur penghubung terputus akibat longsor dan banjir — terutama di daerah pegunungan dan pedalaman. Akibatnya distribusi bantuan logistik sempat terhambat. Namun, dalam beberapa hari terakhir, sejumlah ruas jalan strategis telah dibuka kembali.
Dengan dibukanya akses jalan kembali di wilayah seperti Aceh Tamiang — yang sebelumnya sempat terisolasi — distribusi bantuan mulai dipercepat: pasokan bahan pokok, air bersih, dan kebutuhan mendesak kini mulai bisa dijangkau ke korban terdampak. Meski sejumlah wilayah mulai mendapatkan bantuan dan akses pulih, pemerintah daerah dan lembaga terkait menghimbau masyarakat tetap siaga. Banyak daerah rawan longsor dan banjir masih berstatus berbahaya sungguh keadaan yang memprihatinkan.
Bencana yang menerpa Aceh bukan sekedar banjir — melainkan rangkaian longsor, isolasi wilayah, dan dampak sosial luas terhadap masyarakat. Dengan korban jiwa, pengungsian besar-besaran, kerusakan rumah dan fasilitas umum, Aceh kini menghadapi tantangan besar. Upaya pemulihan sudah dijalankan, namun keadaan darurat dan kewaspadaan masih sangat diperlukan.