Mencari Penerus, Akankah Paus Berikutnya Melanjutkan Legasi Fransiskus?
Mencari Penerus, akankah Paus Selanjutnya Melanjutkan Legasi Fransiskus?
oleh : Salman Ramdani Rachman
Senin, 21 April 2025 silam, Paus Fransiskus nama asli Jorge Mario Bergoglio asal Buenos Aires, Argentina tutup usia pada umur panjang 88 tahun. Diangkat menjadi paus via pemilihan pada 13 Maret, 2013. Pemakaman beliau menjadi di Lapangan Santo Petrus menjadi bagian dari sejarah dunia dihadiri oleh lebih dari 250 ribu pelayat termasuk diantaranya beragam pemimpin dunia (CBC News, 25 Apr 2025).
Paus Fransiskus meninggalkan legasi kepemimpinan gereja yang istimewa dalam pelayanan terhadap persatuan, dan kasih sayang yang dibalut oleh iman kepada agama. Ia juga menjadi paus yang aktif dalam isu-isu global termasuk diantaranya: menaikkan isu perubahan iklim sebagai isu moral, mendorong argumen degradasi global sebagai hasil ketidakadilan sosial. Beliau juga mendorong reformasi dalam Gereja dengan meningkatkan transparasi keuangan di dalam Vatikan. Ia mendorong dialog lebih terbuka antara tokoh-tokoh gereja dan umat Katolik dunia (The Sun, 26 Apr 2025). Lebih lagi, ia jadi paus pertama dalam jangka cukup lama untuk mendorong ide-ide progresif di Gereja termasuk penerimaan yang lebih terbuka untuk peran wanita dan kaum LGBTQ+ (CNN, 22 Apr 2025). Walau tidak dapat dikatakan sebagai paus radikal yang memberi gebrakan pada institusi gereja, pendirian Paus Fransiskus dalam penerimaan manusia universal menjadi angin segar bagi dunia yang telah maju secara ideologis dari genggaman religi.
Konklaf dan Calon Paus Selanjutnya
Sebagaimana tradisi, wafatnya seorang Paus menggerakkan Vatikan untuk memilih Paus selanjutnya. Prosesi pemilihan Paus baru ini disebut dengan Konklaf. Konklaf dilakukan dengan kerahasiaan yang sangat tinggi. Dihadiri oleh para kardinal berusia dibawah 80 tahun dan dilaksanakan di Kapel Sistina, prosesinya dilakukan dengan memanjatkan doa, berdiskusi antar kardinal dan pemungutan suara (ABC News, Apr 25 2025). Paus selanjutnya dipilih ketika seorang kandidat mendapatkan setidaknya dua pertiga dari total suara. Prosesi super rahasia ini ditandakan selesai ketika cerobong asap Kapel Sistina mengeluarkan asap putih, menandakan terpilihnya Paus Baru.
Meski secara peraturan semua Umat Katolik laki-laki yang telah dibaptis memenuhi syarat Kepausan, sejak 1378 – 600 tahun – seorang Kardinal selalu dipilih. Mengutip dari BBC News, 23 April. Berikut beberapa kardinal yang disebut-sebut sebagai kandidat kuat paus selanjutnya:
- Luis Antono Gokim Tagle. Berumur 67 asal Filipina, sering dijuluk “Fransiskus Asian” Kardinal Luis berbagi beragam pandangan dengan mendiang Paus tentang isu-isu sosial termasuk penerimaan dan kepedulian terhadap yang miskin dan kaum marginal.
- Pietro Parolin. Berumur 70 asal Italia, Kardinal Parolin juga menduduki posisi Menteri Luar Negeri Vatikan dibawah Paus Fransiskus, kerap menjadi penasihat utama beliau. Banyak yang meninjau beliau sebagai orang yang akan mendahulukan diplomasi global sebelum kemurnian dogma katolik. Meski begitu posisinya terkait kaum marginal LGBTQ+ lebih keras dibanding Fransiskus.
- Fridolin Ambongo Besungu. Berumur 65 asal Republik Demokratik Kongo, Kardinal Ambongo juga presiden Simposium Konferensi Waligereja Afrika dan Madagaskar. Ia dikenal sebagai pendukung ortodoksi dan ajaran-ajaran moral gereja. Suaranya keras dalam mengkritik pemerintahan Kongo pula cukup tajam dalam isu pernikahan sesama jenis.
- Peter Kodwo Appiah Turkson. 76, asal Ghana. Ia orang Ghana pertama yang dipilih sebagai Kardinal pada 2003 silam dibawah Paus John Paul II. Seperti Kardinal Ambongo dari Afrika ia cenderung konservatif terkait isu sosial namun ia secara opini melawan kriminalisasi pernikahan sesama jenis di negara-negara Afrika termasuk Ghana.
- Peter Erdo, 72, Hungaria. Seorang Kardinal dari umur 51, Kardinal Erdo cukup dihormati dalam gereja-gereja Eropa. Dua kali memimpin Dewan Uskup Eropa dari 2006 – 2016. Sang Uskup Agung Budapest dilihat memiliki pandangan yang cukup konservatif terhadap institusi keluarga pula opininya terkait krisis imigran di Eropa.
Harapan Sosio-Politik Masyarakat
Prosesi Konklaf Vatikan meski menghasilkan pemimpin Gereja agama terbesar ke-2 di dunia, secara ideal terlepas dari kepentingan-kepentingan politik. Sayangnya, konsekuensi kehidupan global tidak melepaskan bahkan umat yang paling murni dari mekanisme politik dunia. Paus berikutnya, siapapun yang terpilih akan dipandang masyarakat global dengan ekspektasi politik mereka sendiri. Dalam hal ini, pendirian mendiang Paus Fransiskus dalam isu-isu sosio-politik akan menjadi tolak ukur komparasi untuk Paus berikutnya.
Masyarakat global sekarang memiliki ekspektasi yang cukup terpolarisasi terkait Paus berikutnya. Pada satu sisi, banyak umat menginginkan seorang figur yang meneruskan pendirian-pendirian Fransiskus, mendorong tangan terbuka terhadap kaum-kaum marginal dan partisipasi aktif dalam konflik Gaza. Di sisi lain, banyak juga yang menganggap Fransiskus terlalu “progresif” dalam penerimaannya terhadap kaum LGBT dan kaum marginal lainnya. Terlepas siapa yang terpilih dan bagaimana pandangannya terhadap beragam isu-isu global, dunia akan memperhatikannya dengan kacamata berharap.
Mendiang Paus Fransiskus telah meninggalkan dunia dengan legasi yang amat dicintai oleh penganut katolisisme maupun yang tidak. Melihatnya sebagai pereformasi hebat yang mengedepankan penerimaan dan perdamaian dalam segala isu-isu yang menghadapnya. Dunia hanya dapat berharap, dalam sepeninggalannya legasi Paus Fransiskus akan terus mendorong kedamaian terutama ditengah iklim konflik dunia sekarang.
“Yang akan saya katakan bukanlah dogma agama, tapi pikiran pribadi saya: Saya suka berpikir neraka itu kosong, saya harap begitu”.
- Paus Fransiskus, 14 Januari 2024,Wawancara Che Tempo Che Fa, Kanal Nove Italia. Sebagaimana dikutip dari Catholic News Agency, 15 Januari 2024.
Referensi :
- CBC News. (2025, April 26). Pope Francis funeral mass: A look back at his legacy. CBC. https://www.cbc.ca/news/world/pope-francis-funeral-mass-1.7519438
- The Sun. (2025, April 26). In a world building barriers and walls between people & nations, Pope Francis built bridges – it's why he was loved. https://www.thesun.co.uk/news/34660245/pope-francis-built-bridges-funeral-rome/
- John, T. (2025, April 22). Pope Francis' legacy: A transformative papacy. CNN. https://edition.cnn.com/2025/04/22/world/catholic-church-pope-francis-legacy-cec/index.html
- ABC News. (2025, April 25). Electing a new pope: What happens next and what is a papal conclave?. https://abcnews.go.com/International/conclave-pope-elected/story?id=121098660
- BBC News. (2025, April 26). Pope Francis funeral: Thousands gather to pay respects. https://www.bbc.com/news/articles/ckgxk40ndk1o
- Hickson, D. (2024, January 15). Pope Francis: 'I like to think of hell as empty'. Catholic News Agency. https://www.catholicnewsagency.com/news/256542/pope-francis-i-like-to-think-of-hell-as-empty