"Gus Elham Kembali Minta Maaf atas Kontroversi Video Cium Anak: Komitmen Perbaiki Dakwah"
Kediri – Pendakwah muda Elham Yahya Luqman atau Gus Elham kembali menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui sebuah video terbaru yang dirilis pada Rabu (12/11/2025). Dalam video berdurasi kurang dari satu menit itu, Gus Elham tampak lebih lesu, berbicara pelan, dan menunjukkan raut wajah yang jauh berbeda dari biasanya.
Video permintaan maaf terbaru ini muncul setelah gelombang kritik dari publik, organisasi keagamaan, hingga lembaga negara seperti KPAI dan PBNU yang menilai tindakannya mencium anak perempuan di ruang publik sebagai tindakan tidak pantas dan berpotensi melanggar prinsip perlindungan anak.
Dengan suara datar dan lirih, Gus Elham membuka pernyataannya: “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kediri, 12 November 2025. Dengan penuh kerendahan hati saya yang paling dalam, saya Muhammad Ilham Yahya Al-Maliki memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat atas beredarnya beberapa potongan video lama yang menimbulkan kegaduhan,” ungkapnya dalam video yang diunggah di akun resmi @mt.ibadallah, Kamis (13/11) pagi.
Ia menegaskan kembali bahwa tindakan yang terekam dalam video tersebut adalah kekhilafan pribadi.“Saya mengakui hal tersebut sebagai kekhilafan pribadi dan telah menghapus video tersebut dari seluruh media sosial resmi kami,” ujarnya. Dalam penggalan berikutnya, ia mengucapkan komitmen untuk memperbaiki diri dan memperbaiki cara berdakwah.
“Saya berkomitmen untuk memperbaiki diri dan menyampaikan dakwah dengan cara yang lebih bijak, sesuai ajaran agama dan nilai-nilai akhlakul karimah,” ucapnya.
Gus Elham menutup pernyataan dengan doa dan nada sangat pelan. “Semoga Allah SWT mengampuni kekhilafan saya dan membimbing saya ke jalan kebaikan. Saya berdoa kepada Allah SWT. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
”Pada hari sebelumnya, ia juga menyampaikan permintaan maaf yang menegaskan hal serupa. Namun, tekanan publik yang belum mereda diduga mendorongnya untuk memberikan klarifikasi lanjutan yang lebih personal dan bersifat visual.
Di sisi lain, komentar dari lembaga resmi seperti MUI, PBNU dan KPAI memperkuat sorotan atas pentingnya adab, batas tubuh anak, serta kewajiban tokoh agama menjaga martabat dalam dakwah. Sikap tegas lembaga-lembaga tersebut membuat kasus ini berkembang menjadi isu nasional mengenai perlindungan anak dan etika pendakwah.